BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kata sastra berasal dari bahasa sansakerta sas yang mengarahkan, mengajarkan,
memberi petunjuk dan instruksi, dan kata tra
yang berarti alat atau sarana. Sastra
dikombinasikan dengan kata su yang
berarti baik, jadi secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar,
buku petunjuk atau buku pengajar yang baik.
Sastra dalam arti yang luas umumnya sastra berupa
teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung pada kedalaman
pikiran dan ekspresi jiwa (Zaidan,2007: 180).
Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa
sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan
kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial (Damono,1984: 1).
Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang
berupa pengalaman, pemikiran, parasaan, ide-ide, semangat, keyakinan. Dalam suatu bentuk gambaran nyata yang mampu
membangkitkan pesona dengan bahasa sebagai sarananya. Sebuah karya sastra yang baik apabila diciptakan
benar-benar berdasarkan imajinasi dan pola pikir yang kreatif serta menggunakan
bahasa yang benar dan tepat, sehingga dapat dinikmati dan dihayati dengan baik
pula untuk mengetahui sejauh mana manfaat dan tidaknya sebuah karya sastra,
maka perlu dilakukan penelitian terhadap karya sastra tersebut. Tanpa adanya upaya demikian maka nilai yang
terkandung dalam sebuah karya sastra tidak dapat dirasakan (Ratna, 2011: 54).
Karya sastra adalah hasil karya cipta manusia yang
diciptakan dengan unsur keindahan dan unsur perasaan yang didalamnya terkandung
nilai-nilai moral, relegi, dan budaya.
Karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk menuangkan pengalaman
jiwanya yang bersifat seni. Pengalaman
yang demikian dapat memenuhi pengalaman batin penikmat sastra. Karya sastra kadang merupakan cermin keadaan
masyarakat suatu tempat dimana karya sastra itu diciptakan. Sebuah karya sastra yang baik seperti drama,
cerpen, novel, akan mendapat perhatian dari penikmat sastra, apabila karya
sastra itu menarik dan dapat memberikan manfaat karena sasaran karya sastra
tidak bermaksud agar penikmat tahu apa yang mesti disampaikan, melainkan
mengajaknya apa yang dirasakan pengarang.
Sosiologi sastra adalah telaah sastra yang berpusat
pada persoalan hubungan karya dengan pengarang, pengarang dengan pembaca,
pembaca dengan karya. Dalam telaah
sosiologi sastra ini dikaji sampai berapa jauh sastra dianggap sebagai
pencerminan masyarakat, sampai berapa jauh nilai sastra dapa berfungsi sebagai
alat penghibur dan sebagai pendidik masyarakat /fungsi sosial sastra
(Zaidan,2007: 192).
Karya sastra yang berupa novel paling dominan dalam
menampilkan unsur-unsur sosialnya karena novel menampilkan unsur-unsur cerita
yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas bahasa novel cenderung
merupakan bahasa sehari-hari yang umum digunakan dalam masyarakat.
Novel merupakan salah satu ragam prosa di samping
cerpen dan roman selain puisi dan drama didalamnya terdapat beberapa peristiwa
yang dialami tokoh-tokoh secara sistematis serta terstrukrur. Diantara genre
utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, khususnya nonel yang
dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial. Alasan yang dapat dikemukakan, diantaranya:
a) novel menampilkan unsur-unsur cerita paling lengkap, memiliki media yang
paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyrakatan yang palingb luas, b)
bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum
digunakan dalam masyarakat. Oleh karena
itulah dikatakan bahwa novel merupakan genre
yang paling sosiologis dan renponsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi
sosiohistoris (Ratna,2011:335-336).
Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby ini menceritakan
bagaimana pertemanan yang sangat erat terjalin antara mahasiswa Unlam Fakultas
Hukum dengan mahasiswa STKIP PGRI jurusan sastra dan bahasa. Novel ini bercerita bagaimana rumitnya
perjalanan cinta dan kehidupan mereka berdua.
Jalinanan cerita ini diceritakan di daerah Kalimantan Selatan dan pada
novel ini peneliti tertarik untuk mengkaji kajian sosiologis. Jalinan cerita yang diketengahkan oleh
seorang Hamami Adaby begitu menarik dan membuat rasa penasaran yang tinggi,
sehingga mampu menghanyutkan perasaan pembaca.
Disamping itu juga Hamami Adaby adalah seorang sastrawan
yang berasal dari Kalimantan, lahir di Banjarmasin 3 Mei 1942 yang tercatat
sebagai penyair KalSel. Menurut HIMSI/Pusat kajian masyarakat Sastra Hamami
berpuisi mulai tahun 70 an, dengan antologi puisi-puisi: Iqra(1997), Kesumba(2002),
Bunga Angin(2003), Dermaga Cinta(2004), Uma Bungas Banjarabaru(2005),dan lainnya.
Novel: Setengguk Rindu (2011),
Perempuan Hujan (Juni 2012), Pertemuan
Haram (2012)
Ada pun prestasi yang dicapai : juara satu panggung
pelajar (puisi), juara I nulis puisi Hari Ibu, Juara IV Deklamasi Pekan Seni
Amuntai, Juara I Hymne Tani Kalsel, Juara Hymne Tani Nasional. Piagam (sastra) : Bupati Barito Kuala, Wali
Kota Banjarbaru, Gubernur Kalimantan.
Berdasarkan uraian di atas, cukuplah beralasan
peneliti melakukan penelitian tentang kajian sosiologis terhadap novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami
Adaby.
1.2 Rumusan Masalah
Dengan
memperhatikan uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dapat
dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah
unsur-unsur sosial pada novel Kamar Itu
Telah Kosong karya Hamami Adaby?
2. Bagaimanakah
unsur-unsur budaya pada novel Kamar Itu
Telah Kosong karya Hamami Adaby?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan tujuan penelitian ini adalah
untuk:
1. Mendeskripsikan
unsur-unsur sosial pada novel Kamar Itu
Telah Kosong karya Hamami Adaby.
2. Mendeskripsikan
unsur budaya pada novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.
1.4 Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian yang berjudul Kajian Sosiologis
terhadap Novel Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby” diharapkan dapat
memberikan manfaat sebagai sumbangan pengembangan teori dan konsep keilmuan
khususnya studi sastra yang mengkaji unsure social dan budaya dalam karya
sastra (novel). Adapun secara praktis penelitian ini dapat memberikan beberapa
manfaat sebagai
berikut:
1. Bagi
peneliti sebagai bahan kajian untuk mengembangkan konsep keilmuan sastra
sebagai salah satu wujud dari pengajaran sastra.
2. Bagi
pembaca atau peneliti lain sebagai bahan informasi atau bahan masukan untuk
kajian sosiologi sastra.
1.5 Penegasan istilah
1.
Kajian
Sosiologis
Istilah kajian, atau
pengkajian, yang dipergunakan dalam penulisan ini menyaran pada pengertian
penelaahan,penyelidikan. Ia merupakan pembedaan dari pembuatan mengkaji,
menelaah, dan menyelidiki/meneliti (Nurgiyantoro,2010: 30).
2.
Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu
tentang bagaimana masyarakat saling berinteraksi, bergaul, berhubungan dengan
cara yang baik. Adapun secara harfiah
menurut Gunawan (2010:3) sosiologi berasal dari bahasa latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan logos = ilmu pengetahuan. Jadi
sosiologis adalah ilmu tantang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik,
atau cara bergaul yang baik dalam masyarakat.
3. Novel
Jenis prosa yang mengandung unsur
tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut
pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik lisahan dan
ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan. Sebaliknya istilah antinovel
adalah novel yang pengarangannya mengabaikan konvensi itu dan lebih menekankan
introspeksi psikologi mengenai motivasi dan perasaan manusia yang sangat rumit
dan beragam sehingga penceritaannya cenderung eksperimenal, misalnya alur
cerita yang tidak jelas, episode yang melantur , perkembangan watak tokoh yang
kurang tampak, perulangan yang banyak, dan urutan-urutan waktu yang bervariasi,
seperti dalam novel Ziarah dan Kering (Iwan Simatupang). Dalam perkembangan sastra Indonesia, istilah
roman yang diambil dari sastra Belanda mulai digantikan dengan istilah novel
yang lazim dalam sastra Anglo Saxon.
Sekarang kedua istilah itu tidak dibedakan.(Zaidan, 2007: 136).
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Sosilogi Sastra
Dalam arti luas umumnya
sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung
pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa. (Zaidan, 2007: 180).
Kata “sastra”
atau “kesusastraan” dapat ditemui dalam sejumlah pemakaian yang berbeda-beda.
Hal ini menggambarkan bahwa sastra itu kenyataannyabukanlah nama dari sesuatu
yang sederhana, tetapi ia merupakan satu “istilah payung” yang meliputi sebuah
kegiatan penyimakan atau pembacaan naskah, pamphlet, majalah atau buku. Kita juga dapat berbicara mengenai sastra
sebagai sesuatu yang diasosiasikan dengan karakteristik sebuah bangsa atau
kelompok manusia, misalnya kita dengar adanya istilah kesusastraan arab,
kesusastraan amerika, dan sebagainya. Sastra
itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah
manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan bahasa
manusia dan segala macam segi kehidupannya maka ia tidak saja merupakan suatu
media untuk menyampaikan ide, teori, atau system berpikir, tetapi juga
merupakan media untuk menampung ide, teori, atau system berpikir manusia (Semi,
1993: 7-8).
Karya sastra diciptakan oleh
sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat,
sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat. Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan
bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan
kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial (Damono,1984: 1).
Sosiologi adalah
ilmu tentang bagaimana masyarakat saling berinteraksi, bergaul, berhubungan
dengan cara yang baik, ada pun pengertian menurut para ahli tentang sosiologi,
menurut Gunawan (2010: 3) yaitu:
Secara harfiah
sosiologi berasal dari bahasa latin: Socius
= teman, kawan, sahabat, dan Logos =
ilmu pengetahuan. Jadi sosilogi adalah
ilmu tentang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik, atau cara bergaul
yang baik dalam masyarakat. Sedangkan
secara operasional (defenisi real), beberapa pakar sosiologi mendefenisikan
sebagai berikut:
a. Sosiologi
adalah studi tentang hubungan antar manusia (human relationship).
b. Sosiologi
adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan,
yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok
dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
c. Sosiologi
adalah ilmu masyarakat umum.
d. Sosiologi
atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses
sosial, termaksud perubahan-perubahan sosial.
Dua
anggapan dasar (postulat) yang melandasi timbulnya sosiologi ialah:
a.
Bahwa tingkah laku manusia mengikuti
pola atau tata tertentu, seperti halnya perpolaan yang ada pada gejala-gejala
alam. Artinya kegiatan manusia tertentu
dilakukan sedikit banyak menurut cara yang telah berpola baku.
b. Bahwa
manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kecenderungan alamiah untuk
berhimpun dalam kelompok manusia juga, sehingga memerlukan cara
bergaul/berteman yang baik, yaitu sosiologi.
Menurut Bakir
Kamus Besar Bahasa Indonesia sosiologi adalah ilmu yang mempelajari sifat
keadaan dan pertumbuhan masyarakat, kehidupan manusia dalam masyarakat. Sedangkan sosial adalah segala sesuatu
mengenai masyarakat/kemasyarakatan, suka memperhatikan kepentingan umum, suka
menolong, menderma dan sebagainya.
Sosiologi sastra
merupakan disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri
dari sejumlah studi-studi emperis dan berbagai percobaan dan teori yang agak
lebih general, yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa
semuanya berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat. (Endraswara,2008:
77).
Sementara itu
sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif. Sosiologi sastra adalah penelitian yang
terfokus pada masalah manusia. Karena
sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa
depanya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan instiusi. (Endraswara,2008: 79).
Sastra sebagai
cermin nilai dan perasaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi
dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu bersosialisasi biasanya
akan menjadi sosrotan. Karya sastra yang
cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi
zaman. (Endraswara,2008: 88-89).
Sebuah karya sastra tidak hanya
mencerminkan fenomena individual secara tertutup melaikan lebih merupakan
sebuah ‘proses yang hidup’. Sastra tidak
mencerminkan realitas seperti fotografi, melainkan lebih sebagai bentuk khusus
yang mencerminkan realitas. (Endraswara,2008: 89).
2.2 Unsur-unsur Sosial
Unsur-unsur sosial yang pokok
adalah norma/kaidah sosial,lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial
(Gunawan,2010: 5).
Ada pun pengertian dari unsur-unsur
sosial diatas yaitu:
§ Norma/kaidah
sosial,
ialah tingkah laku yang
diterima atau diperlakukan dalam keadaan tertentu. Norma mencerminkan aturan permainan, atau
dengan kata lain menentukan patokan bertingkah laku, dan untuk menilai
perbuatan.
§ Lembaga
sosial,
suatu istilah yang
dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi. Menurut mereka, lembaga social/kemasyarakatan
ialah semua norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu keprluan pokok
dalam kehidupan masyuarakat, misalnya lembaga pendidikan, ekonomi, dan lain
sebagainya.(Gunawan,2010: 23)
fungsi lembaga social yaitu:
a. Memberi
pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya.
b. Menjaga
keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
c. Memberi
pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control), yaitu sistem pengawasan
masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.(Gunawan, 2010: 27-28)
§ Kelompok
sosial
Kelompok sosial
adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama oleh karena adanya
hubungan diantara mereka. Hubungan itu
menyangkut hubungan timbale balik yang
saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran salinh menolong.
Kelompok sosial
memiliki banyak jenis dan dibedakan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial
antara kelompok dan kesadaran jenis.
Kelompok sosial
dibagi menjadi empat macam:
a.
Kelompok statistik
Kelompok statistik yaitu kelompok yang bukan
organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis diantaranya.
Contoh;
Kelompok
penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
b. Kelompok
kemasyarakatan
Kelompok kemasyarakatan yaitu kelompok yang memiliki
kesamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial diantara
anggotanya.
c. Kelompok
sosial
Kelompok sosial yaitu kelompok yang anggotanya
memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan lainnya tetapi tidak
terikat dalam ikatan organisasi.
Contoh:
Kelompok
pertemuan,kerabat.
d. Kelompok
asosiasi
Kelompok asosiasi yaitu kelompok yang anggotanya
memiliki kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribai maupun
kepentingan bersama dalam asoaiasi, para anggotanya melakukan hubungan social,
kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal.
Contoh:
Negara,
sekolah.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompoksosial)
§ Lapisan
sosial
Pelapisan sosial (stratifikasi sosial) berasal dari
kata stratus yang artinya lapisan (berlapis-lapis) sehingga stratifikasi sosial
berarti ‘lapisan masnyarakat.
Suatu
kiasan untuk menggambarkan bahwa dalam tiap kelompok terdapat perbedaan
kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan
rendah , seolah-olah merupakan lapisan yang bersap-sap dari atas kebawah.
(Hartomo,1999: 194).
2.3 Unsur-unsur Budaya
Setiap kebudayaan mempunyai tujuh
unsur dasar, yaitu: kepercayaan, nilai,
norma dan sanksi, simbol, teknologi, bahasa, dan kesenian (Maran,2000: 15-18).
a. Kepercayaan
Kepercayaan berkaitan dengan pandangan tentang
bagaimana dunia ini beroperasi.
Kepercayaan itu bias berupa pandangan-pandangan atau tentang
interpretasi-interpretasi tentang masa lampau, bisa berupa
penjelasan-penjelasan masa sekarang, bisa berupa prediksi-prediksi tentang masa
depan, dan bisa juga berdasarkan common
sense,akal sehat, kebijaksanaan yang dimiliki suatu bangsa, agama, ilmu
pengetahuan, atau kombinasi antara semua hal tersebut.
b. Nilai
Nilai menjelaskan apa yang seharusnya terjadi. Nilai itu luas, abstrak, standar kebenaran
yang harus dimiliki, yang diinginkan, dan layak dihormati. Meskipun mendapat pengakuan luas, nilai-nilai
pun jarang ditaati oleh setiap masyarakat.
Namun nilailah yang menentukan suasana kehidupan kebudayaan dan
masyarakat.
c. Norma
dan Sanksi
Norma adalah suatu aturan khusus, atau seperangkat
peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh
manusia. Norma mengungkapkan bagaimana
manusia seharusnya berperilaku atau bertindak.
Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagi setiap
aktivitas manusia lahir dan kematian, bercinta dan berperang, apa yang harus
dimakan dan apa yang harus dipakai, kapan dan dimana orang bisa bercanda,
melucu dan sebagainya.
Jika norma-norma adalah garis pedoman, sanksi-sanksi
merupakan kekuatan penggeraknya. Sanksi
adalah ganjaran ataupun hukuman yang memungkinkan orang mematuhi norma.
d. Teknologi
Pengetahuan dan teknik-teknik suatu bangsa dipakai
untuk membangun kebudayaan material.
Dengan pengetahuan dan teknik-teknik yang dimilikinya, suatu bangsa
membangun lingkungan fisik, sosial, dan psikologis yang khas.
Sebagai hasil penerapan ilmu, teknologi adalah cara
kerja manusia. Dengan teknologi manusia
secara intensif berhubungan dengan alam dan membangun kebudayaan sekunder yang
berbeda dengan dunia primer (alam).
e. Simbol
Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan
atau memberikan makna.
f. Bahasa
Bahasa adalah”gudang
kebudayaan”. Pelbagai arti yang
diberikan manusia terhadap objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan perilaku
merupakan jantung kebudayaan. Dan bahasa
merupakan sarana utama untuk menangkap, mengkomunikasikan, mendiskusikan,
mengubah, dan mewariskan arti-arti ini kepada generasi baru.
g. Kesenian
Setiap
kebudayaan memiliki ekspresi-ekspresi artistik.
Itu tidak berarti bahwa semua bentuk seni dikembangkan dalam setiap
kebudayaan. Bagaimana kebutuhan akan
ekspresi estetis berkaitan dengan karakteristik-karakteristik dasar
masing-masing masyarakat. Tidak ada
masyarakat-bangsa yang memiliki ekspresi-ekspresi estetis yang khas.
2.4 Pengertian Novel
Bentuk
karya fiksi yang terkenal dewasa ini adalah novel dan cerita pendek. Diantara para ahli teori sastra kita memang
ada yang membedakan antara novel dan roman.
Dengan mengatakan bahwa novel mengungkapkan suatu konsentrasi kehidupan
pada suatu saat yang tegang, dan pemusatan kehidupan yang tegas. Sedangkan roman dikatakan sebagai
menggambarkan kronik kehidupan yang lebih luas biasanya melukiskan peristiwa
dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan meninggal dunia. Ada yang menyebutkan bahwa roman merupakan
karya fiksi yang menggambarkan tokoh dan peristiwa yang hebat-hebat,
mengagumkan, mengerikan, atau menyeramkan, sedangkan novel merupakan karya
fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan
disajikan lebih halus. (Semi,1993: 32).
Jenis prosa yang mengandung unsur
tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut
pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik lisahan dan
ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan. Sebaliknya istilah antinovel
adalah novel yang pengarangannya mengabaikan konvensi itu dan lebih menekankan
introspeksi psikologi mengenai motivasi dan perasaan manusia yang sangat rumit
dan beragam sehingga penceritaannya cenderung eksperimenal, misalnya alur
cerita yang tidak jelas, episode yang melantur , perkembangan watak tokoh yang
kurang tampak, perulangan yang banyak, dan urutan-urutan waktu yang bervariasi,
seperti dalam novel Ziarah dan Kering (Iwan Simatupang). Dalam perkembangan sastra Indonesia, istilah
roman yang diambil dari sastra Belanda mulai digantikan dengan istilah novel
yang lazim dalam sastra Anglo Saxon.
Sekarang kedua istilah itu tidak dibedakan.(Zaidan, 2007: 136).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Pendekatan Penelitian
Pendekatan didefinisikan sebagai
cara-cara menghampiri objek, sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan,
menganalisis, dan menyajikan data.
Tujuan metode adalah efesiensi, dengan cara menyederhanakan. Dengan memanfaatkan metode dan teori yang
baru, tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu
pengetahuan itu sendiri. Oleh karena
itulah, pendekatan lebih dekat dengan bidang studi tertentu.(Ratna,2011:
53-54).
Pendekatan sosiologis
sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar
terhadap aspek dokumenter sastra, landasanya adalah gagasan bahwa sastra
merupakan cermin zamannya. Pandangan ini
beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari pelbagai segi struktur
sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal
ini, tugas sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali
dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan
asal-usulnya. Tema dan gaya yang ada
dalam karya sastra, yang bersifat pribadi itu, harus diubah menjadi hal-hal
yang sosial sifatnya.(Damono,1984: 9).
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan
sosiologis. Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat,
mulai dari proses pemahaman mulai masyarakat ke individu. Dengan menggunakan pendekatan ini peneliti
mencoba untuk memaparkan unsur sosial dan budaya yang merupakan bagian dari
kehidupan masyrakat yang terdapat pada cerita (Ratna, 2011: 59).
3.2
Metode Penelitian
Metode
yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Metode deskriptif analitis dilakukan dengan
cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian di susul dengan analisis.
(Ratna, 2011: 53). Selain itu, akan
diterapkan pula metode analisis isi, yaitu berhubungan dengan isi komunikasi,
baik secara verbal, dalam bentuk bahasa, maupun nonverbal, seperti arsiktektur,
pakaian, alat rumah tangga, dan media elektronik. Dalam ilmu sosial isi yang dimaksudkan berupa
masalah-masalah sosial,ekonomi, dan politik.
3.3
Variabel Penelitian dan Operasionalnya
Variabel penelitian dapat diambil dari beberapa
gambaran yang terjadi agar penelitian ini mudah dipahami dari sosiologis cerita
dalam novel Kamar Itu Telah Kosong karya
Hamami Adaby.
Hal tersebut di atas dapat diwujudkan dalam bentuk
variabel, sub variabel dan indikator sebagai berikut.
Tabel Variabel Penelitian
|
VARIABEL
|
SUB
VARIABEL
|
INDIKATOR
|
|
Kajian
sosiologis
|
1.
Unsur Sosial
2.
Unsur Budaya
|
a.
norma/kaidah sosial
b.
lembaga sosial
c.
kelompok sosial
d.
lapisan sosial
a.
kepercayaan
b.
nilai
c.
norma dan sanksi
d.
simbol
e.
teknologi
f.
bahasa
g.
kesenian
|
3.4
Data dan Sumber Data
Sumber
data penelitian ini adalah Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong
Karya Hamami Adaby. Novel ini diterbitkan
oleh Intan Cindekia Yogyakarta November Tahun 2012.
3.5
Teknik Penelitian
3.5.1
Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah
teknik dokumentasi dan observasi teks. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan
bahan-bahan tertulis yang berkaitan langsung dengan objek penelitian dalam
bentuk karya tertentu yang disebut dengan teknik dokumentasi atau studi
kepustakaan. Langkah-langkahnya adalah:
1) Membaca
penuh novel yang akan diteliti.
2) Memilih
data dan menentukan data yang sesuai dengan masalah.
3) Mengidentifikasi
aspek permasalahan yang terdapat dalam jalinan cerita.
4)
Mendeskripsikan hasil observasi sesuai
data-data yang diperoleh.
3.5.2
Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah
melakukan analisis data. Melihat metode
yang digunakan dalam penelitian, maka teknik yang digunakan adalah teknik deskriftif interpretatif. Analisis dilakukan setelah data terkumpul dan
terjaring, kemudian penelitimenginterpretasikannya, adapun untuk mengananlisis
data melalui tahapan-tahapan sebagai berikut ;
1) Peroganisasian
data, yaitu menuju pada proses pengaturan dan pemilihan data yang dilandasi
dengan hubungan antara pilihan secara sosiatif.
2) Interpretasi
Mengacu
pada penelitian data, pemaknaan dengan cirri signifisi, selanjutnya dihubungkan
dengan idealis menyangkut deskripsi yang dihasilkan.
3) Evaluasi
Merefleksikan
data dengan pemahaman dan pengathuan penelitian.
3.6
Instrumen Penelitian
Instrument
penelitian ini yaitu peneliti melakukan kajian sosiologis terhadap novel yang
berjudul Kamar Itu Telah Kosong karya
Hamami Adaby. Untuk memudahkan
langkah-langkah dalam menganalisis data pada penelitian ini, maka peneliti
membuat sebuah instrument penelitian sederhana yang akan digunakan dalam tahap analisis
data. Berikut table instrument penelitian
yang akan digunakan dalam data penelitian ini.
Tabel
Instrumen Penelitian
|
Subvariabel
|
Kode
|
Indikator
|
Kode
|
|
Unsur Sosial
Unsur Budaya
|
US
UB
|
a.
norma/kaidah sosial
b.
lembaga sosial
c.
kelompok sosial
d.
lapisan sosial
a.
kepercayaan
b.
nilai
c.
norma dan sanksi
d.
simbol
e.
teknologi
f.
bahasa
g.
kesenian
|
nksl
lbsl
klsl
lpsl
kpcn
nl
nds
sbl
tkg
bhs
ksn
|
3.7
Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian dalam karya ilmiah ini dapat
dijelaskan sesuai dengan dengan kegiatan yang akan dilakukan yaitu pada bulan Maret
2013 sampai Agustus 2013 kegiatan ini berlangsung selama enam bulan. dalam hal ini ada sejumlah tahapan yang akan
dilalui antara lain1) Persiapan, 2) Penyusunan Proposal 3) Seminar Proposal 4)
Penyususnan Skripsi dan konsultasi 5) Ujian Skripsi dan 6) Revisi, sejumlah
tahapan itu secara jelas dapat dilihat berikut.
Tabel
Jadwal Penelitian
|
No
|
KEGIATAN
|
Bulan
|
|||||||||||||||||||||||
|
Maret
2013
|
April
2013
|
Mei
2013
|
Juni
2013
|
Juli
2013
|
Agustus
2013
|
||||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Persiapan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Penyusunan
Proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Seminar
Proposal
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Penyusunan
Skripsi & Konsultasi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Ujian
Skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Revisi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN HASIL
PENELITIAN
4.1
Sinopsis Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby
Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami
Adaby ini menceritakan tentang persahabatan dan cinta dari seorang kahfi.
Jalinan cerita ini diceritakan di daerah Kalimantan Selatan. Kahfi berkuliah di Universitas Lambung
Mangkurat Fakultas Hukum sahabatnya Indra Setyawan yang biasa dipanggil Indra,
berkuliah di STKIP PGRI jurusan Sastra dan Bahasa,perkenalan pertama di
Banjarmasin. Indra adalah orang yang
mengesankan perilakunya, anak yang pintar, cerdas dan solider sesama teman,
selain itu Indra juga mempunyai tutur bahasa yang orisinil selalu bisa
menyesuaikan diri dengan siapa ia bicara tinggal dikeluarga besar santri. Kahfi dan Indra adalah sahabat yang sangat
erat, persahabtan keduanya sangat akrab tak bisa dipisahkan begitu saja, orang
tua Indra KH. Salman pengasuh Pondok pesantren di Sei Tabuk Barabai sudah
dianggap seperti orang tua Kahfi sendiri.
Kahfi ngekos di jalan kembang
bakung Rt.11 Rw.12 kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin Utara, yang berdekatan
dengan langgar AR-Rakhman, suasana di Surgi Mufti sedikit tenang dan ayem,
cuacanya dingin sebab pohon-pohon masih tertata asri dan apik, karna surau juga
tidak jauh dari rumah kostnya, setiap ada waktu lowong sebelum kekampus Kahfi
sering I’tikab menentramkan diri munajat dengan Tuhan.
Dalam persahabatan keduanya ada
permaslahan yang dihadapi oleh Kahfi yaitu persoalan cinta yang membuat hatinya
tak karuan, tapi masalah cinta yang dihadapinya tidak diutarakanya langsung
kepada Indra, sehingga membuat Indra bingung untuk memberikan solusi kepada
Kahfi, perlu pembicaraan luas dan rinci
untuk membuka hati Kahfi dan membuka pembicaraan tentang persoalan cinta yang
dilandanya.
Kahfi yang kelihatan tenang sekali
padahal memori menggumpal di otak, Ia berusaha menyimpan rahasia itu. Berharap Indra tak mampu menangkap sinyal
yang liar dalam kepala. Kahfi merendam
kedustaan tersembunyi dibalik hati yang galau tapi Indra dapat membaca situasi
yang membelenggu hati Kahfi, sehingga akhirnya Kahfi bicara juga dan
mempersilahkan Indra untuk membicarakan tentang cinta, pembicaraan yang panjang
tentang cinta perlu kehati-hatian bagi Indra dan penuh perhitungan, agar Kahfi
tidak terlalu merasa pertanyaan yang diutarakan Indra terlalu mengarahkan pada
pribadinya, sungguh sulit mendapatkan pengakuan dari seorang Kahfi padalah
Indra ingin secepatnya menyelesaikan permasalahan yang dialami Kahfi dan
secepatnya menyelamatkan pikiran Kahfi yang terbelenggu dalam ketidak pastian.
Ada seorang wanita yang membuat
hati Kahfi dilanda kegelisahan dalam menghadapi permasalahan cintanya, tapi
Indra tidak mengetahui siapa wanita itu hanya saja julukannya Dewi si maha guru,
karena begitu banyak misteri yang dialami Kahfi sehingga jalinan cinta yang
dialaminya disebut percintaan tingkat Dewa-Dewi. Kerisauan tergambar jelas diwajah Kahfi tapi
Ia berusaha membangun kekuatan hati dan mulai merekahkan senyum dan meminta
Indra tidak mengkhawatirkannya dan percaya masalahnya akan selesai.
Delapan tahun yang lalu Kahfi
pernah tinggal di Tanjung Kabupaten Tabalong,di daerah kampung Pembataan, Jl.
Ir. H.Pangeran M.Noor, Kahfi adalah orang yang sederhana, low profil, ramah
serta rendah hati. Kahfi cukup dikenal dikalangan pemuda remaja masjid, alim
ulama, tokoh-tokoh masyarakat, majlis ta’lim.
Kahfi tak pernah bermusuhan dengan siapapun, Ia pernah di daulat untuk
membentuk group kesenian Rebana oleh tetuha masyarakat, Ia mendapat ucapan
terima kasih dari Komunitas Sanggar Islami, bahkan organisasi se Kecamatan
Tanjung dan desa Wayau merespon positif.
Saat berkunjung lagi ke Tanjung
Kahfi mewariskan Nasidah Ria Rebana kepada teman wanitanya yang bernama lilis,
sempat terjadi pemrbicangan diantara keduanya, Kahfi menanyakan kabar Maisyanti
seorang guru Bahasa Arab SMAN 2 Tanjung, yang menimbulkan tanda tanya siapa itu
syanti. Kebetulan ditanjung ada acara ba
syair di Aruh Sastra Kalimantan Selatan dan tanjung sebagai tuan rumah itulah
kenapa Kahfi bertandang ke Tanjung.
Pada sabtu tanggal 26 Mei 2012
Kahfi bertandang kerumah Indra Setyawan di Mabuun komplek Citra Persada Indah
no. C.16 Rt.4A. kedatangan Kahfi
disambut juga oleh istrinya Indra Liani, dan kedua anaknya Evita Sharfina Setyani
dan Gusti Andra Kurniawan.
Saat pulang dari kediaman Indra,
Kahfi bertemu dengan lilis perbincangan merekapun tak luput dari wanita yang
bernama Dewi entah Lilis mengenal Dewi atau tidak, Ia hanya bertanya wanita
itukah yang menyakiti hati Kahfi. Siapa
sebenarnya Dewi, sampai detik ini masih rahasia. Hanya Kahfi yang tahu karena Ia yang
merasakanya, dan hanya Tuhan yang tau
dari yang paling rahasia. Kahfi pernah
berkata terang-terangan dengan Dewi, bahwa Kahfi sangat menyanyangi Dewi, tapi
Dewi malah menjawab silahkan saja tetapi aku tidak, amat bodoh rasanya kalau
begini kata kahfi, lebih kaget lagi Dewi menjawab yang bodoh itu siapa, Dewi
atau Kahfi.
Teman-teman Kahfi yang lain pun
begitu penasaran siapa Dewi yang mampu berulah sehingga membuat galaunya hati
Kahfi, Beram dan benya juga penasaran apa yang sedang dialami Kahfi, Beram
orangnya sangat penyabar, toleran dengan sesame teman, watak yang terbuka dan
selalu disiplin waktu. Beram dan benya juga termaksuk teman dekat Kahfi dan
Indra. Begitu banyak lontaran pertanyaan
saat terjadi percakapan antara mereka bila sedang berkumpul bersama, tetapi
begitu sulit mendapat pengakuan pasti dari Kahfi sempat terucap oleh kahfi,
apakah dewi adalah rosa atau rosiana, tetapi masih saja tak ada kepastian
sehingga mereka membiarkan cerita itu mengalir dengan sendirinya.
Seperti itulah perjalanan cinta
Kahfi yang penuh misteri entah siapa itu Dewi, tetap menjadi misteri, tidak ada
ungkapan yang pasti mengenai Dewi dari Kahfi hanya bayang-banyang dan
perseteruan batin yang dialami Kahfi tentang jalinan cintanya. Indrapun tetap menjadi sahabat yang baik yang
mengerti kegelisahan Kahfi.
4.2
Kajian Sosilogis Novel Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby
4.2.1
Unsur Sosial
4.2.1.1
Norma/Kaidah Sosial
Norma/kaidah sosial
adalah tingkah laku yang diterima atau diperlakukan dalam keadaan tertentu.
Patokan bagaimana bertingkah laku yang menurut aturan bisa dianggap baik dan
diterima masyarakat, dalam novel berjudul Kamar
Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby ada beberapa tingkah laku yang dapat
dicerminkan ditengah-tengah masyarakat yang peneliti temukan. Hal yang berhubungan dengan norma atau
tingkah laku kutipannya sebagai berikut:
Kutipan
1
“Perkenalan pertama di Banjarmasin dengan Indra
Setyawan. Kahfi kuliahnya di Universitas
Lambung Mangkurat Fakultas Hukum. Indra
STKIP PGRI. Jurusan Sastra dan Bahasa. Dia
tahu benar tentang Indra, mengesankan prilakunya, supel. Keluarga besar santri, orang tuanya pengasuh
Pondok pesantren di Sei Tabuk Barabai.
Ia tergolong anak pintar, cerdas dan solider sesama teman”.(US/nksl,2012: 10)
Kutipan
2
“Jarang ada sahabat ditemui seperti
Indra Setyawan. Tutur bahasa sangat
orisinil selalu bisa menyesuaikan diri dengan siapa ia bicara”.(US/nksl,2012:
10)
Kutipan
3
“Coba tanya pada mendung yang
menyembunyikan rahasia ini. Sebenarnya
yang bernama beram ini orangnya sangat penyabar. Toleran sesama teman. Dengan siapa saja tak pernah membuat ribut,
apalagi dengan Ben dan Kahfi. Kali ini nampaknya ada pergeseran sedikit.”
“Ketahuilah sejak dulu mereka selalu
akur saja. Kahfi sangat mengenali watak
Beram yang terbuka dan disiplin dengan waktu. Berjanji dengannya memang kita
harus hati-hati. Setiap janji pasti
dipenuhi sesuai ucapan lidah yang keluar.
Itu harga mati.”(US/nksl,2012: 72)
Dari kutipan di
atas tergambar jelas perilaku Indra Setyawan yang sangat baik dan juga Beram, sangat
bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, perilaku yang dapat dicontoh agar
jadi panutan yang baik.
4.2.1.2
Lembaga Sosial
Dalam kehidupan kemasyarakatan
ada lembaga disekitarnya, lembaga sosial baik itu lembaga ekonomi ataupun
lembaga pendidikan, seperti yang ada pada novel pun juga digambarkan adanya
lembaga sosial berupa lembaga pendidikan oleh pengarang, seperti dalam kutipan
di bawah ini:
Kutipan
1
“Ya, ada nama itu Fi,
ia tinggal di Belimbing Raya perumahan BTN.
Yang tembus Murung Pundak.” Ujar
Lilis menjelaskannya ke Kahfi. Bahkan menambahkan,”Syanti
guru Bahasa arab SMAN 2 Tanjung,” serta merta Kahfi terdiam. Lilis menatap
Kahfi.”(UB/lbsl,2012: 26)
Kutipan
2
“Sedang Kahfi dan Indra
Setyawan merajut persahabatan berpuluh tahun lalu sejak di SMAN. Mulawarman, sampai perguruan tinggi tahun
91. Indra STKIP PGRI, Kahfi kuliah
Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin. Sampai
kini ibarat buah rambutan rasa duren senang bersama duka berbagi”.(UB/lbsl,2012:
91)
Dari kutipan
diatas tergambar jelas adanya lembaga pendidikan, adanya menyebutkan nama
lembaga pendidikan sekolah dan Kahfi dan
Indra yang sama-sama satu sekolah dan selanjutnya juga berkuliah walau beda
Fakultas.
4.2.1.3
Kelompok Sosial
Dalam lingkungan
bermasyarakat juga ada yang namanya kelompok sosial yaitu himpunan atau
kesatuan manusia yang hidup bersama oleh adanya hubungan diantara mereka. Hubungan itu menyangkut hubungan timbal balik
yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran saling menolong, hal yang
berkaitan dengan kelompok sosial kutipannya sebagai berikut;
Kutipan
1
“KAHFI pernah tinggal di Tanjung
Kabupaten Tabalong, 8 tahun yang lalu di derah kampung pembataan, jalan IR. H.
Pangeran M.Noor. orangnya sederhana
sekali, low profil ramah serta rendah hati.
Ia cukup dikenal dkalangan pemuda remaja mesjid, alim ulama, tokoh-tokoh
masyarakat, majlis ta’lim, bahkan pemuda-pemuda bertubuh kekar siap
mengamankanpribadi kahfi. Luar biasa
solidaritas itu! Tanpa dikawal pun musuh tak pernah datang.”(US/klsl,2012: 24)
Kutipan
2
“Bukan saja ucapan
terima kasih yang datang dari Komunitas
Sanggar Islam, tapi hampir semua organisasi se Kecamatan Tanjung termasuk desa
Wayau merespon positif. Berita ini telah
tercium oleh Bupati Tabalong Rakhman Ramsyi, serta istri beliau Sumiati.(US/klsl,2012:
24)
Kutipan diatas
menceritakan adanya kelompok sosial berdasarkan realita keagamaan karena
disebutkan adanya perkumpulan remaja mesjid, majelis ta’lim dan komunitas
sanggar islam organisasi se Kecamatan serta yang lainnya. Ada juga kelompok sosial yang berhubungan
dengan kelompok pertemanan, kutipan yang peneliti temukan yaitu:
“Sore tak ada pertemuan, Indra menemani
rombongan mengajak makan sore di rumah makan”BUNDA”Simpang Empat Mabuun. Pemandangan sore senja itu amat romantis
sekali. Mendung tapi cerah, seperti
gadis bertapih sedada tersenyum agak malu-malu.
“In, sayang lilis gak nemanin
kita,”ceplos longgar Kahfi.
“Hemm, masih seperti dulu aja nich,”
Indra tersenyum.
“Teman yang lain ketempat keluarga dan
rekan-rekan,” ucap Benya.
“Ya, lain kali ada waktu kita ajak
juga. Kita berlima” ujar Indra.
“Iya, Kahfi, Ben, Rajul, Indra dan saya,
Beram” katanya.
“Minumnya?”
“The panas 2, es teh 2 dan Indra?
“He, teh jugalah!”
“Kita makan apa? Ada ayam, kambing, papuyu dan
masakan Paliat,”
“Coba Paliat, bagaimana rasanya,” ujar
Beram.
‘’Ya, Paliat ajalah,” ujar Ben
ikutan.rajul ujar Kahfi membonceng.
“Paliat jugalah,” ujar Rajul sambil
tertawa lebar.”Kahfi?” balasnya.”Paliat ajalah,” Rajul gak sempat nanya. Saya?
Ujar Indra, “Samma!”
“Semua Paliat, pecah tawa kami
berlima. Pelayan rumah makan “BUNDA”
terperangah mendengar pungutan suara, 100 persen partai independent
“PALIAT”. Hidup kuliner Paliat Kelua
Tanjung. Rasakan nikmatnya masakan
ini. Sekali mencoba tetap menikmatinya,
subhanallah.(US/klsl,2012: 91-93)
Dari kutipan tersebut jelas tergambar adanya
perkumpulan pertemanan yang terjadi di rumah makan, sehingga peneliti
menggambarkan itu sebagai kelompok sosial.
4.2.1.4
Lapisan Sosial
Lapisan sosial
berhubungan dengan adanya penggambaran dalam tiap kelompok terdapat perbedaan
kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai berkedudukan rendah,
kutipan yang ditemukan peneliti sebagai berikut:
“Roker juga manusia,
maling, koruptor, begal, novelis ya manuisa.
Rasanya selalu saja kita dibelit perasaan, dibelit ketidaknyamanan
situasi dan kondisi. Suasana
melambungnya harga bahan pokok, kurs rupiah yang anjlok, pengangguran makin
bertambah”.(US/lpsl,2012: 7-8)
Dari kutipan di
atas disebutkankan, maling, koruptor, novelis dan pengangguran, menurut
peneliti hal tersebut berhubungan dengan lapisan sosial.
TABEL DATA HASIL ANALISIS UNSUR
SOSIAL NOVEL
KAMAR
ITU TELAH KOSONG KARYA HAMAMI ADABY
|
No.
|
Unsur Sosial
|
|
|
1.
|
Norma/Kaidah
Sosial
|
ditemukan 3 pembahasan
|
|
2.
|
Lembaga
Sosial
|
ditemukan 2 pembahasan
|
|
3.
|
Kelompok
Sosial
|
ditemukan 3 pembahasan
|
|
4.
|
Lapisan
Sosial
|
ditemukan 1 pembahasan
|
4.2.2
Unsur Budaya
4.2.2.1
Kepercayaan
Kepercayaan
berkaitan dengan pandangan bagaimana dunia beroperasi. Setiap orang pasti memiliki kepercayaannya
masing-masing baik kepada maha pencipta, agama dan hal sebagainya, dalam
jalinan cerita yang dikemukakan pengarang menggambarkan kehidupan yang
berpegang teguh kepada kepercayaan terhadap agamanya, hal yang berhubungan dengan
kepercayaan terhadap agama sebagai berikut:
Kutipan
1
“Di pemukiman baru ini, Surgi Mukti
agaknya sedikit tenang dan ayem, dingin cuaca sebab pohon-pohon masih tertata
apik. Surau juga tidak jauh dari rumah
kostnya. Kahfi ada waktu lowong sebelum
kekampus sering I’tikab menentramkan diri munajat dengan Tuhan. Komunikasi langsung, sebab Tuhan mendengar
dan mengetahui isi hati kita”.(UB/kpcn,2012: 7)
Kutipan
2
“Ia sangat peduli,
tidak masa bodoh selalu belas kasihan rakhman rakhiemnya seisi dunia. Maka cintailah sesama ummat, dia pemberi
kasih sayang dari segala cinta. Berdoa,
istigfar dengan rasa tak pernah surut dan lelah. Doa kita diperkenankan
nantinya”.(UB/kpcn,2012: 7)
Kutipan
3
“Tuhan ada dimana-mana
yang selalu kita bawa. Tuhan selalu
dalam diri kita. Segala pinta dan
cengkerama. Doa penuh hidmat dalam
denyut nadimu. Amanah hidup tak
ternilai. Hidayahnya yang kita harus
temukan dalam kehidupan. Apakah ini tak
terpikirkan olehmu?”.(UB/kpcn,2012: 8-9)
Kutipan
4
“Ucapan Indra Setyawan sangat
menenangkan fikiran Kahfi. Betapa tidak,
coba kita bayangkan sejenak sambil menarik hu Allah. Hembus perlahan sambil menatap alam ciptanya. Allah maha suci telah melengkapkan segala
keperluan hajat hidup mahkluk dibuminya.
Begitu agung dan kasih sayangnya. Begitu indah dan sepantasnya kalian
bersujud dihamparan tanah ini”.(UB/kpcn,2012: 10)
Kutipan
5
“Cakap dan kelakar sore senja itu di
siring kali Martapura depan mesjid Sabilal Mukhtadin menjadi saksi
kenangan. Segera keduanya menuju mesjid
ikut berjamaah sembahyang magrib di imami Mualim KH.Tarmizi Abbas. Selesai menunaikan tugas bagi seorang muslim,
kami masing-masing berdoa dengan bahasa sendiri. Sebab tuhan maha mengerti segala ucapan. Setelah itu kami berangkulan dan
berpisah. Sangat sarat muatan percakapan
itu”.(UB/kpcn,2012: 14)
Kutipan 6
“Bagi
kahfi tentu lain lagi masalahnya.
Ketenangan termaksud dalam salah satu fondasi sakral seharusnya
berpegang pada tali Allah. Tak ada
pilihan lain yang bisa menolong, selain sang penguasa. Kita pinta dalam sebuah doa dengan hidmad dan
ikhlas, sesungguhnya Dia akan mengabulkan segala pinta hambanya. Kenapa ini tidak dilakukan? Kami serahkan
pada kalian, maunya apa dan bagaimana.”(UB/kpcn,2012: 62)
Dari kutipan di
atas digambarkan pengarang bahwa kehidupan yang dijalani tak luput dari
keimanannya kepada Allah Swt, dimana tokoh yang bernama Kahfi memilih tempat
tinggal yang dekat dengan langgar, sehingga bila ada waktu lowong Kahfi sering
pergi I’tikab sebelum ke kampus sekedar bermunajat diri, berdoa dan beristigfar.
4.2.2.2
Nilai
Nilai adalah
kosepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang
dianggap buruk, nilai juga bisa mengenai
hakikat hidup manusia, bisa juga mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam,
dalam novel Kamar Itu Telah Kosong
ada hal yang berhubungan dengan hakikat hidup manusia dan hakikat manusia
dengan alam, kutipan yang berhubungan dengan nilai sebagai berikut:
Kutipan
1
“Terserah saja, itu bukan urusan Maha
Guru,”Katanya.
“Kalau begitu bubaran saja, itu lebih baik,”
“Dewi tak ngurusi Kahfi, serah saja mau apa.
Masih ada yang lebih penting,” kata Maha guru.
“Memang amat ruwet sekali. Indra masih tertegun mendengar cerita
Kahfi. Hanya orang-orang yang menolak
keindahan cinta yang tak beriman. Tak
percaya cinta milik Tuhan dititip anugerahkannya pada manusia”.(UB/nl,2012: 18)
Kutipan
2
“Indra Setyawan berdiri
di atas gundukan tanah bebukitan.
Dibawah sebatang rimbun kesturi.
Sambil menikmati kibasan angin manja bilangan kampung Wayau Kecamatan Tanjung. Bunga hatinya berpendar-pendar. Ada semacam keindahan melihat keasrian hutan
diperkampungan”.(UB/nl,2012: 21)
Kutipan
3
“Berbalik-balik tak menentu gerak
dinamisnya, melambung tinggi, menurun drastis jadi kejam dan bengisnya. Begitu lembutnya kalau sudah cinta merasuk
dalam sanubari kita. Kalbu yang
bersembunyi, betapa sulit ukur kedalaman indah pancaran senyum yang manis. Sebaliknya apa mampukah kita baca warna hati
manusia. Hati itu seperti apa. Apa
merah, ungu, hitam atau putih? Kamu yang lebih tau”.(UB/nl,2012: 42)
Dari kutipan diatas
digambarkan pengarang tentang nilai dari hakikat manusia berupa penilaian
terhadap indahnya cinta, dan juga tentang hakikat manusia dengan alama yaitu
Indra yang menikmati indahnya panorama alam di daerah Wayau Kecamatan Tanjung
yang asri Suasana perkampungannya.
4.2.2.3
Norma dan Sanksi
Dalam norma ada
tingkah laku yang baik dan ada juga tingkah laku yang melanggar pola tingkah
laku yang sebenarya. Norma adalah suatu aturan khusus, atau aturan seperangkat
peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan dan sanksi
adalah hukuman yang patut diberikan bagi pelanggar norma itu. Dalam jalinan cerita pada novel karya Hamami
Adaby ini ada beberapa pelanggaran norma, hal yang berhubungan dengan
pelanggaran norma dan sanksi kutipannya sebagai berikut:
Kutipan
1
“Pohon-pohon besar sepemeluk, kayu-kayu
gelondongan yang disinsaw, ditebang penguasa hutan orang-orang berduit. Berapa milyard kubik kayu-kayu kita dibawa
keluar negeri. Bahkan ada yang dicuri
orang-orang berdasi. Dibabat habis
digergaji. Robohlah sudah, rusak
anak-anakan sekitar. Margasatwa menangis
kehilangan tempat berteduh. Seperti
rumah-rumah kumuh tak berizin di tepian sungai pinggiran kota”.(UB/nds,2012:
20)
“Tebang pilih sudah tak berlaku
lagi. Apalagi tebang tanam. Lokasi itu
ditinggal begitu saja. Dibiarkan jadi
merangas, setelah disikat habis. Tak
lagi memperdulikan lingkungan, bahwa hutan merupakan paru-paru alam yang harus
dilestari kembali setelah ditebang. Hutan telah jadi gundul seperti kepala
longgor”.(UB/nds,2012: 20)
Kutipan
2
“Di bawah
lapisan-lapisanya yakin ada pengikut setia berjamaah. Dia adalah tikus-tikus yang me mark’up uang
Negara, uang rakyat. Mereka-mereka telah
jadi bunglon menyamar menjadi pembela kebenaran akan kemakmuran. Gila betul siluman-siluman kaya gitu!
Pantasnya dihukum pancung saja”.(UB/nds,2012: 22)
Tergambar jelas
dari pembahasan diatas adanya pelanggaran norma tentang tingkah laku para orang
berduit yang berkuasa dan tidak memperdulikan alam lingkungan sekitar yang
hanya memikirkan untuk me mark up uang negara, orang berdasi pun juga ikut
ambil alih, seharusnya ada ganjaran setimpal yang mereka terima.
4.2.2.4
Simbol
Simbol adalah
sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna, dalam novel Kamar Itu Telah Kosong peneliti
menemukan beberapa kalimat yang berhubungan dengan simbol tentang para Koruptor
yang selalu menyengsarakan masyarakat, kutipan yang berhubungan sebagai
berikut:
Kutipan
1
“Perih juga hati kita merasakan hal
ini. Perih bertambah luka kita
menyaksikan kehidupan masyarakat pinggiran kota, makan tanpa lauk, hanya garam
peluncur rasa ke dalam perut. Sungguh
aneh di negeri yang subur ini hanya tikus-tikus yang kenyang dan gendut. Persetan!”(UB/sbl,2012: 8)
Kutipan
2
“Pohon-pohon besar sepemeluk, kayu-kayu
gelondongan yang disinsaw, ditebang penguasa hutan orang-orang berduit. Berapa milyard kubik kayu-kayu kita dibawa ke
luar negeri. Bahkan ada yang dicuri
orang-orang berdasi. Dibabat habis
digergaji. Robohlah sudah, rusak
anak-anakan kayu sekitar. Margasatwa
menangis kehilangan berteduh. Seperti
rumah-rumah kumuh tak berizin di tepian sungai pinggiran kota.”
“Tebang pilih sudah tak berlaku
lagi. Apalagi tebang tanam. Lokasi itu ditinggal begitu saja. Dibiarkan jadi merangas, setelah disikat
habis. Tak lagi memperdulikan lingkungan,
bahwa hutan merupakan paru-paru alam yang harus dilestari kembali setelah
ditebang. Hutan telah jadi gundul seperti
kepala longgor.”(UB/sbl,2012: 20)
Kutipan
3
“Di bawah
lapisan-lapisannya yakin ada pengikut setia berjamaah. Dia adalah tikus-tikus yang me mark’up uang
Negara, uang rakyat. Mereka-mereka telah
jadi bunglon menyamar menjadi pembela kebenaran akan kemakmuran. Gila betul siluman-siluman kayak gitu!
Pantasnya dihukum pancung saja.”(UB/sbl,2012: 22)
Dari kutipan tersebut tergambar jelas
bahwa pengarang menggambarkan tikus-tikus sebagai simbol para koruptor yang
kejam kepada masyarakat, tidak memperdulikan lingkungan hanya mencari materi
untuk kepuasan hidupnya.
4.2.2.5
Teknologi
Penggunaan
teknologi yang ditemukan peneliti dalam novel Kamar Itu Telah Kosong ini
beberapa keadaan yang disebutkan berhubungan dengan teknologi, yang peneliti
temukan dalam kutipan di bawah ini:
“Ini hanya sebuah lamunan yang tak
berujung pangkal ketika melintasi jalan tambak anyar kabupaten Banjar sampai
binuang Kabupaten Tapin, truk-truk gila itu jadi raja singa berjejer barisan
seperti parade kekuatan kemegahan, kesombongan keserakahan tak terperi.
Mengaum-ngaum.”
“Truk-truk itu melintasi aspal Negara
satu-satunya jalan transportasi darat dari Kabupaten ke Propinsi Kalimantan
Selatan. Perjalanan ini ditempuh kurang
lebih 5 jam menuju ma Tanjung. Bak
belakang yang ditutup terpal, batu-batu bara yang di stock file di pelabuhan.
Tongkang-tongkang gandengan siap mengantarkannya ke luar pulau Kalimantan.”
“Payah juga menuju Kabupaten Minyak
Tanjung. Sebenarnya tubuh Kahfi remuk
juga dalam mobil taxi itu. Macet dalam
perjalanan seperti melewat jalan setan di Jakarta saja. Truk-truk batu bara seenaknya saja ngeluyur
bolak balik. Ini satu-satunya jalan lho. Mobil-mobil jenis ringan, avanza,
pather, pick-up dan sejenisnya ngeri juga berpapas dengan truck-truck gajah
hutan.”(UB/tkg,2012: 112-113)
Dari kutipan di atas
teknologi yang digunakan dalam jalinan cerita Kamar Itu Telah Kosong pengarang menyebutkan adanya truk-truk
besar, kapal tongkang gandengan, mobil avanza, pick-up, panther dan mobil taxi,
yang menurut peneliti itu merupakan canggihnya teknologi masa kini.
4.2.2.6 Bahasa
Setiap manusia
membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi, baik itu bahasa lisan, bahasa tulis,
dan bahasa isyarat. Bahasa adalah unsur budaya yang penting yang dapat
menunjukan suatu masyarakat berasal dari kebudayaan yang sama atau tidak. Dalam
novel karya Hamami Adaby ada beberapa penggunaan bahasa antara lain adanya
bahasa Banjar dan juga bahasa Inggris yang ditemukan peneliti, bahasa banjar
yaitu sebagai berikut:
1)
Ujar (UB/bhs,2012:9): kata
2) Pagutan
(UB/bhs,2012:19): berpelukan
3) Di
wadah (UB/bhs,2012:23): di tempat
4) Limbung
(UB/bhs,2012:25): arah
5) Pun
(UB/bhs,2012:33): jawaban untuk panggilan dari orang yang lebih tua
6) Banyu
putih (UB/bhs,2012:36): air putih
7) Memusut-musut
(UB/bhs,2012:36): mengelus-elus
8) Itik
masak habang (UB/bhs,2012:53): bebek masak sambal merah
9) Papuyu
baumbar (UB/bhs,2012:53): papuyu penamaan oleh orang Banjar untuk Ikan betook.
Baumbar/ bakar.
10) Kedahi
(UB/bhs,2012:57): kejidad
11) Sangkal
(UB/bhs,2012: jengkel
Bahasa
inggris yang ditemukan yaitu sebagai berikut:
1) Standart
(UB/bhs,2012:9):
2) Problema
no (UB/bhs,2012:19):
3) Yes
(UB/bhs,2012:19):
4) Low
profil (UB/bhs,2012:24):
5)
Knock out (UB/bhs,2012:65):
Gambaran kutipan
di atas adalah sebagai unsur budaya yang menyangkut bahasa.
4.2.2.7
Kesenian
Kesenian yang terkandung dalam jalinan cerita
oleh pengarang Hamami Adaby, menurut peneliti adalah dengan menyebutkan adanya
ranggam acara pergelaran kesenian dan sanggar kesenian, kutipan yang
berhubungan sebagai berikut:
Kutipan
1
“Malam itu ada acara ba syair di Aruh
Sastra Kalimantan Selatan tuan rumah Tanjung.
Padalah rencana esok Sabtu Kahfi jam 2.00 akan kerumah Indra di
Mabuun. Malamnya ketemu di taman tidak
jauh dari acara tersebut.”(UB/ksn,2012: 29)
Kutipan
2
“Dua hati satu jiwa merupakan motto yang
absolute. Tak berhak siapapun menggugat.
Label ini sudah dipatenkan di Aruh Sastra 2006 Kotabaru di siring beton patai
bamega. Disaksikan kelap-kelip lampu kapal dengan santunnya ombak disela
karang.”
… …
“Dua tahun lalu Kahfi diundang panitia
Aruh Sastra Tanjung. Indra Setyawan,
Lilis MS, serta bambang rukmana menyambut kedatangan kami di Kesekreatan. Setelah beberapa istirahat rombongan
diinapkan di rumah penduduk tepian dekat
jembatan tidak jauh dari gedung
SARABAKAWA.”(UB/ksn,2012: 91)
Itulah gambaran
kesenian menurut peneliti yang digambarkan oleh pengarang dalam novel Kamar Itu
Telah Kosong.
TABEL DATA HASIL ANALISIS UNSUR BUDAYA
NOVEL
KAMAR
ITU TELAH KOSONG KARYA HAMAMI ADABY
|
No.
|
Unsur Budaya
|
|
|
1.
|
Kepercayaan
|
ditemukan 6 pembahasan
|
|
2.
|
Nilai
|
ditemukan 3 pembahasan
|
|
3.
|
Norman
dan Sanksi
|
ditemukan 2 pembahasan
|
|
4.
|
Simbol
|
ditemukan 3 pembahasan
|
|
5.
|
Teknologi
|
ditemukan 1 pembahasan
|
|
6.
|
Bahasa
|
ditemukan pembahasan
|
|
7.
|
Kesenian
|
ditemukan 2 pembahasan
|
PENUTUP
5.1
Simpulan
Berdasarkan analisis mengenai
Kajian Sosiologis terhadap Novel Kamar
Itu Telah Kosong karya Hamami
Adaby didapatkan hasil sebagai berikut:
1) Dilihat
dari bentuk unsur-unsur sosial meliputi:
a. Norma/Kaidah
Sosial ada 3 pembahasan
b. Lembaga
Sosial ada 2 pembahasan
c. Kelompok
Sosial ada 3 pembahasan
d. Lapisan
Sosial ada 1 pembahasan
2) Dilihat
dari bentuk unsur-unsur budaya meliputi:
a. Kepercayaan
ada 6 pembahasan
b. Nilai
ada 3 pembahasan
c. Norma
dan Sanksi ada 2 pembahasan
d. Simbol
ada 3 pembahasan
e. Teknologi
ada 1 pembahasan
f. Bahasa
ada 19 pembahasan
g.
Kesenian ada 2 pembahasan
|
45
|
5.2
Saran-saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka
dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1) Dengan
melaksanakan kajian terhadap novel, kita akan mengarah pola pikir yang lebih
kritis, kreatif serta mengasah pemahaman membaca lebih dalam.
2) Penelitian
mengenai kajian sosiologis dalam sastra dapat ditingkatkan lagi. Banyak hal-hal
yang menarik untuk diteliti, karena di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai
dalam berbagai aspek.
Abdulkadir,
Muhammad.2011. Ilmu Sosial Budaya Dasar.
Bandung: PT Citra Aditya
Bakti.
Adaby,
Hamami. 2012. Kamar Itu Telah Kosong.
Yogyakarta: Intan Cindekia.
Aminuddin.
2011. Pengantar Apersiasi Karya Sastra.
Malang: Sinar Baru Algensindo.
Bakir,
R. Suyoto dan Sigit Suryanto. 2006. Edisi
Baru Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Batam Centre: karisma
Publishing Group.
Damono,
Sapardi Djoko.1984.Sosiologi Sastra
Sebuah Pengantar Ringkas.Jakarta: Tut Wuri Handayani.
Endraswara,
Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian
sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.
Gunawan,
Ary H.2010.Sosiologi Pendidikan Suatu
Analisis Sosiologi tentang pelbagai
Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Hartomo,
dan Arnicun Aziz.1999.Ilmu Sosial Dasar.Jakarta:
Bumi Pusaka.
Maran,
Rafael Raga.2000. Manusia &
Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya
Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Nurgiyantoro,
Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi.
Yogyakarta: Gadjah Mada.
Ratna,
Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan
teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Soekanto,
Soerjono.2009.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:
Rajawali Pers.
Tim
Penyusun. 2011. Pedoman Penulisan Skripsi.
Banjarmasin: STKIP PGRI Banjarmasin.
Waridah,
Ernawati. 2008. EYD & Seputar
Kebahasaan-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.
|
47
|
Tidak ada komentar :