Asia

Africa

Soundslides

Events

Photojournalism

/ / Unlabelled / KAJIAN SOSIOLOGIS TERHADAP NOVEL KAMAR ITU TELAH KOSONG KARYA HAMAMI ADABY


BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah
Kata sastra berasal dari bahasa sansakerta sas yang mengarahkan, mengajarkan, memberi petunjuk dan instruksi, dan kata tra yang berarti alat atau sarana.  Sastra dikombinasikan dengan kata su yang berarti baik, jadi secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajar yang baik.
Sastra dalam arti yang luas umumnya sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa (Zaidan,2007: 180).
Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.  Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial  (Damono,1984: 1).
Sastra merupakan ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, parasaan, ide-ide, semangat, keyakinan.  Dalam suatu bentuk gambaran nyata yang mampu membangkitkan pesona dengan bahasa sebagai sarananya.  Sebuah karya sastra yang baik apabila diciptakan benar-benar berdasarkan imajinasi dan pola pikir yang kreatif serta menggunakan bahasa yang benar dan tepat, sehingga dapat dinikmati dan dihayati dengan baik pula untuk mengetahui sejauh mana manfaat dan tidaknya sebuah karya sastra, maka perlu dilakukan penelitian terhadap karya sastra tersebut.  Tanpa adanya upaya demikian maka nilai yang terkandung dalam sebuah karya sastra tidak dapat dirasakan (Ratna, 2011: 54).
Karya sastra adalah hasil karya cipta manusia yang diciptakan dengan unsur keindahan dan unsur perasaan yang didalamnya terkandung nilai-nilai moral, relegi, dan budaya.  Karya sastra merupakan media bagi pengarang untuk menuangkan pengalaman jiwanya yang bersifat seni.  Pengalaman yang demikian dapat memenuhi pengalaman batin penikmat sastra.  Karya sastra kadang merupakan cermin keadaan masyarakat suatu tempat dimana karya sastra itu diciptakan.  Sebuah karya sastra yang baik seperti drama, cerpen, novel, akan mendapat perhatian dari penikmat sastra, apabila karya sastra itu menarik dan dapat memberikan manfaat karena sasaran karya sastra tidak bermaksud agar penikmat tahu apa yang mesti disampaikan, melainkan mengajaknya apa yang dirasakan pengarang.
Sosiologi sastra adalah telaah sastra yang berpusat pada persoalan hubungan karya dengan pengarang, pengarang dengan pembaca, pembaca dengan karya.  Dalam telaah sosiologi sastra ini dikaji sampai berapa jauh sastra dianggap sebagai pencerminan masyarakat, sampai berapa jauh nilai sastra dapa berfungsi sebagai alat penghibur dan sebagai pendidik masyarakat /fungsi sosial sastra (Zaidan,2007: 192).
Karya sastra yang berupa novel paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosialnya karena novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari yang umum digunakan dalam masyarakat.
Novel merupakan salah satu ragam prosa di samping cerpen dan roman selain puisi dan drama didalamnya terdapat beberapa peristiwa yang dialami tokoh-tokoh secara sistematis serta terstrukrur.  Diantara genre utama karya sastra, yaitu puisi, prosa, dan drama, khususnya nonel yang dianggap paling dominan dalam menampilkan unsur-unsur sosial.  Alasan yang dapat dikemukakan, diantaranya: a) novel menampilkan unsur-unsur cerita paling lengkap, memiliki media yang paling luas, menyajikan masalah-masalah kemasyrakatan yang palingb luas, b) bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari, bahasa yang paling umum digunakan dalam masyarakat.  Oleh karena itulah dikatakan bahwa novel merupakan genre yang paling sosiologis dan renponsif sebab sangat peka terhadap fluktuasi sosiohistoris (Ratna,2011:335-336).
Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby ini menceritakan bagaimana pertemanan yang sangat erat terjalin antara mahasiswa Unlam Fakultas Hukum dengan mahasiswa STKIP PGRI jurusan sastra dan bahasa.  Novel ini bercerita bagaimana rumitnya perjalanan cinta dan kehidupan mereka berdua.  Jalinanan cerita ini diceritakan di daerah Kalimantan Selatan dan pada novel ini peneliti tertarik untuk mengkaji kajian sosiologis.  Jalinan cerita yang diketengahkan oleh seorang Hamami Adaby begitu menarik dan membuat rasa penasaran yang tinggi, sehingga mampu menghanyutkan perasaan pembaca.
Disamping itu juga Hamami Adaby adalah seorang sastrawan yang berasal dari Kalimantan, lahir di Banjarmasin 3 Mei 1942 yang tercatat sebagai penyair KalSel.  Menurut  HIMSI/Pusat kajian masyarakat Sastra Hamami berpuisi mulai tahun 70 an, dengan antologi puisi-puisi: Iqra(1997), Kesumba(2002), Bunga Angin(2003), Dermaga Cinta(2004), Uma Bungas Banjarabaru(2005),dan lainnya.  Novel: Setengguk Rindu (2011), Perempuan Hujan (Juni 2012), Pertemuan Haram (2012)
Ada pun prestasi yang dicapai : juara satu panggung pelajar (puisi), juara I nulis puisi Hari Ibu, Juara IV Deklamasi Pekan Seni Amuntai, Juara I Hymne Tani Kalsel, Juara Hymne Tani Nasional.  Piagam (sastra) : Bupati Barito Kuala, Wali Kota Banjarbaru, Gubernur Kalimantan.
Berdasarkan uraian di atas, cukuplah beralasan peneliti melakukan penelitian tentang kajian sosiologis terhadap novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.
1.2  Rumusan Masalah
Dengan memperhatikan uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah unsur-unsur sosial pada novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby?
2.      Bagaimanakah unsur-unsur budaya pada novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby?
1.3  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat ditetapkan tujuan penelitian ini adalah untuk:
1.      Mendeskripsikan unsur-unsur sosial pada novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.
2.      Mendeskripsikan unsur budaya pada novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.

1.4  Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian yang berjudul Kajian Sosiologis terhadap Novel Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby” diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai sumbangan pengembangan teori dan konsep keilmuan khususnya studi sastra yang mengkaji unsure social dan budaya dalam karya sastra (novel). Adapun secara praktis penelitian ini dapat memberikan beberapa manfaat sebagai
berikut:
1.      Bagi peneliti sebagai bahan kajian untuk mengembangkan konsep keilmuan sastra sebagai salah satu wujud dari pengajaran sastra.
2.      Bagi pembaca atau peneliti lain sebagai bahan informasi atau bahan masukan untuk kajian sosiologi sastra.

1.5  Penegasan istilah
1.      Kajian Sosiologis
Istilah kajian, atau pengkajian, yang dipergunakan dalam penulisan ini menyaran pada pengertian penelaahan,penyelidikan. Ia merupakan pembedaan dari pembuatan mengkaji, menelaah, dan menyelidiki/meneliti (Nurgiyantoro,2010: 30).
2.      Sosiologis
Sosiologi adalah ilmu tentang bagaimana masyarakat saling berinteraksi, bergaul, berhubungan dengan cara yang baik.  Adapun secara harfiah menurut Gunawan (2010:3) sosiologi berasal dari bahasa latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan logos = ilmu pengetahuan. Jadi sosiologis adalah ilmu tantang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik, atau cara bergaul yang baik dalam masyarakat.
3.      Novel
Jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik lisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan. Sebaliknya istilah antinovel adalah novel yang pengarangannya mengabaikan konvensi itu dan lebih menekankan introspeksi psikologi mengenai motivasi dan perasaan manusia yang sangat rumit dan beragam sehingga penceritaannya cenderung eksperimenal, misalnya alur cerita yang tidak jelas, episode yang melantur , perkembangan watak tokoh yang kurang tampak, perulangan yang banyak, dan urutan-urutan waktu yang bervariasi, seperti dalam novel Ziarah dan Kering (Iwan Simatupang).  Dalam perkembangan sastra Indonesia, istilah roman yang diambil dari sastra Belanda mulai digantikan dengan istilah novel yang lazim dalam sastra Anglo Saxon.  Sekarang kedua istilah itu tidak dibedakan.(Zaidan, 2007: 136).
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Sosilogi Sastra
Dalam arti luas umumnya sastra berupa teks rekaan, baik puisi maupun prosa yang nilainya tergantung pada kedalaman pikiran dan ekspresi jiwa. (Zaidan, 2007: 180).
Kata “sastra” atau “kesusastraan” dapat ditemui dalam sejumlah pemakaian yang berbeda-beda. Hal ini menggambarkan bahwa sastra itu kenyataannyabukanlah nama dari sesuatu yang sederhana, tetapi ia merupakan satu “istilah payung” yang meliputi sebuah kegiatan penyimakan atau pembacaan naskah, pamphlet, majalah atau buku.  Kita juga dapat berbicara mengenai sastra sebagai sesuatu yang diasosiasikan dengan karakteristik sebuah bangsa atau kelompok manusia, misalnya kita dengar adanya istilah kesusastraan arab, kesusastraan amerika, dan sebagainya.  Sastra itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya.  Sebagai seni kreatif yang menggunakan bahasa manusia dan segala macam segi kehidupannya maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori, atau system berpikir, tetapi juga merupakan media untuk menampung ide, teori, atau system berpikir manusia (Semi, 1993: 7-8).
Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimanfaatkan oleh masyarakat, sastrawan itu sendiri adalah anggota masyarakat.  Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium, bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial.  Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial  (Damono,1984: 1).
Sosiologi adalah ilmu tentang bagaimana masyarakat saling berinteraksi, bergaul, berhubungan dengan cara yang baik, ada pun pengertian menurut para ahli tentang sosiologi, menurut Gunawan (2010: 3) yaitu:
Secara harfiah sosiologi berasal dari bahasa latin: Socius = teman, kawan, sahabat, dan Logos = ilmu pengetahuan.  Jadi sosilogi adalah ilmu tentang cara berteman/berkawan/bersahabat yang baik, atau cara bergaul yang baik dalam masyarakat.  Sedangkan secara operasional (defenisi real), beberapa pakar sosiologi mendefenisikan sebagai berikut:
a.       Sosiologi adalah studi tentang hubungan antar manusia (human relationship).
b.      Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan, yakni hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis.
c.       Sosiologi adalah ilmu masyarakat umum.
d.      Sosiologi atau ilmu masyarakat adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termaksud perubahan-perubahan sosial.
Dua anggapan dasar (postulat) yang melandasi timbulnya sosiologi ialah:
a.       Bahwa tingkah laku manusia mengikuti pola atau tata tertentu, seperti halnya perpolaan yang ada pada gejala-gejala alam.  Artinya kegiatan manusia tertentu dilakukan sedikit banyak menurut cara yang telah berpola baku.
b.      Bahwa manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kecenderungan alamiah untuk berhimpun dalam kelompok manusia juga, sehingga memerlukan cara bergaul/berteman yang baik, yaitu sosiologi.
Menurut Bakir Kamus Besar Bahasa Indonesia sosiologi adalah ilmu yang mempelajari sifat keadaan dan pertumbuhan masyarakat, kehidupan manusia dalam masyarakat.  Sedangkan sosial adalah segala sesuatu mengenai masyarakat/kemasyarakatan, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, menderma dan sebagainya.
Sosiologi sastra merupakan disiplin yang tanpa bentuk, tidak terdefinisikan dengan baik, terdiri dari sejumlah studi-studi emperis dan berbagai percobaan dan teori yang agak lebih general, yang masing-masingnya hanya mempunyai kesamaan dalam hal bahwa semuanya berurusan dengan hubungan sastra dengan masyarakat. (Endraswara,2008: 77).
Sementara itu sosiologi sastra adalah cabang penelitian sastra yang bersifat reflektif.  Sosiologi sastra adalah penelitian yang terfokus pada masalah manusia.  Karena sastra sering mengungkapkan perjuangan umat manusia dalam menentukan masa depanya, berdasarkan imajinasi, perasaan dan instiusi. (Endraswara,2008: 79).
Sastra sebagai cermin nilai dan perasaan, akan merujuk pada tingkatan perubahan yang terjadi dalam masyarakat yang berbeda dan juga cara individu bersosialisasi biasanya akan menjadi sosrotan.  Karya sastra yang cenderung memantulkan keadaan masyarakat, mau tidak mau akan menjadi saksi zaman. (Endraswara,2008: 88-89).
Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup melaikan lebih merupakan sebuah ‘proses yang hidup’.  Sastra tidak mencerminkan realitas seperti fotografi, melainkan lebih sebagai bentuk khusus yang mencerminkan realitas. (Endraswara,2008: 89).
2.2 Unsur-unsur Sosial
Unsur-unsur sosial yang pokok adalah norma/kaidah sosial,lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial (Gunawan,2010: 5).
Ada pun pengertian dari unsur-unsur sosial diatas yaitu:
§  Norma/kaidah sosial,
ialah tingkah laku yang diterima atau diperlakukan dalam keadaan tertentu.  Norma mencerminkan aturan permainan, atau dengan kata lain menentukan patokan bertingkah laku, dan untuk menilai perbuatan.
§  Lembaga sosial,
suatu istilah yang dikemukakan oleh Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi.  Menurut mereka, lembaga social/kemasyarakatan ialah semua norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu keprluan pokok dalam kehidupan masyuarakat, misalnya lembaga pendidikan, ekonomi, dan lain sebagainya.(Gunawan,2010: 23)
       fungsi lembaga social yaitu:
a.       Memberi pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya.
b.      Menjaga keutuhan masyarakat yang bersangkutan.
c.       Memberi pegangan kepada masyarakat untuk mengadakan sistem pengendalian sosial (social control), yaitu sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku anggota-anggotanya.(Gunawan, 2010: 27-28)
§  Kelompok sosial
Kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama oleh karena adanya hubungan diantara mereka.  Hubungan itu menyangkut hubungan timbale balik  yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran salinh menolong.
Kelompok sosial memiliki banyak jenis dan dibedakan ada tidaknya organisasi, hubungan sosial antara kelompok dan kesadaran jenis.
Kelompok sosial dibagi menjadi empat macam:
a.       Kelompok statistik
Kelompok statistik yaitu kelompok yang bukan organisasi, tidak memiliki hubungan sosial dan kesadaran jenis diantaranya.
Contoh;
Kelompok penduduk usia 10-15 tahun di sebuah kecamatan.
b.      Kelompok kemasyarakatan
Kelompok kemasyarakatan yaitu kelompok yang memiliki kesamaan tetapi tidak mempunyai organisasi dan hubungan sosial diantara anggotanya.
c.       Kelompok sosial
Kelompok sosial yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan berhubungan satu dengan lainnya tetapi tidak terikat dalam ikatan organisasi.
Contoh:
Kelompok pertemuan,kerabat.
d.      Kelompok asosiasi
Kelompok asosiasi yaitu kelompok yang anggotanya memiliki kesadaran jenis dan ada persamaan kepentingan pribai maupun kepentingan bersama dalam asoaiasi, para anggotanya melakukan hubungan social, kontak dan komunikasi, serta memiliki ikatan organisasi formal.
Contoh:
Negara, sekolah.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kelompoksosial)
§  Lapisan sosial
Pelapisan sosial (stratifikasi sosial) berasal dari kata stratus yang artinya lapisan (berlapis-lapis) sehingga stratifikasi sosial berarti ‘lapisan masnyarakat.
Suatu kiasan untuk menggambarkan bahwa dalam tiap kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai yang berkedudukan rendah , seolah-olah merupakan lapisan yang bersap-sap dari atas kebawah. (Hartomo,1999: 194).
2.3 Unsur-unsur Budaya
Setiap kebudayaan mempunyai tujuh unsur dasar,  yaitu: kepercayaan, nilai, norma dan sanksi, simbol, teknologi, bahasa, dan kesenian (Maran,2000: 15-18).
a.       Kepercayaan
Kepercayaan berkaitan dengan pandangan tentang bagaimana dunia ini beroperasi.  Kepercayaan itu bias berupa pandangan-pandangan atau tentang interpretasi-interpretasi tentang masa lampau, bisa berupa penjelasan-penjelasan masa sekarang, bisa berupa prediksi-prediksi tentang masa depan, dan bisa juga berdasarkan common sense,akal sehat, kebijaksanaan yang dimiliki suatu bangsa, agama, ilmu pengetahuan, atau kombinasi antara semua hal tersebut.
b.      Nilai
Nilai menjelaskan apa yang seharusnya terjadi.  Nilai itu luas, abstrak, standar kebenaran yang harus dimiliki, yang diinginkan, dan layak dihormati.  Meskipun mendapat pengakuan luas, nilai-nilai pun jarang ditaati oleh setiap masyarakat.  Namun nilailah yang menentukan suasana kehidupan kebudayaan dan masyarakat.
c.       Norma dan Sanksi
Norma adalah suatu aturan khusus, atau seperangkat peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan oleh manusia.  Norma mengungkapkan bagaimana manusia seharusnya berperilaku atau bertindak.  Norma adalah standar yang ditetapkan sebagai garis pedoman bagi setiap aktivitas manusia lahir dan kematian, bercinta dan berperang, apa yang harus dimakan dan apa yang harus dipakai, kapan dan dimana orang bisa bercanda, melucu dan sebagainya.
Jika norma-norma adalah garis pedoman, sanksi-sanksi merupakan kekuatan penggeraknya.  Sanksi adalah ganjaran ataupun hukuman yang memungkinkan orang mematuhi norma.
d.      Teknologi
Pengetahuan dan teknik-teknik suatu bangsa dipakai untuk membangun kebudayaan material.  Dengan pengetahuan dan teknik-teknik yang dimilikinya, suatu bangsa membangun lingkungan fisik, sosial, dan psikologis yang khas.
Sebagai hasil penerapan ilmu, teknologi adalah cara kerja manusia.  Dengan teknologi manusia secara intensif berhubungan dengan alam dan membangun kebudayaan sekunder yang berbeda dengan dunia primer (alam).
e.       Simbol
Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna.
f.       Bahasa
Bahasa adalah”gudang kebudayaan”.  Pelbagai arti yang diberikan manusia terhadap objek-objek, peristiwa-peristiwa, dan perilaku merupakan jantung kebudayaan.  Dan bahasa merupakan sarana utama untuk menangkap, mengkomunikasikan, mendiskusikan, mengubah, dan mewariskan arti-arti ini kepada generasi baru.
g.      Kesenian
Setiap kebudayaan memiliki ekspresi-ekspresi artistik.  Itu tidak berarti bahwa semua bentuk seni dikembangkan dalam setiap kebudayaan.  Bagaimana kebutuhan akan ekspresi estetis berkaitan dengan karakteristik-karakteristik dasar masing-masing masyarakat.  Tidak ada masyarakat-bangsa yang memiliki ekspresi-ekspresi estetis yang khas.
            2.4 Pengertian Novel
           Bentuk karya fiksi yang terkenal dewasa ini adalah novel dan cerita pendek.  Diantara para ahli teori sastra kita memang ada yang membedakan antara novel dan roman.  Dengan mengatakan bahwa novel mengungkapkan suatu konsentrasi kehidupan pada suatu saat yang tegang, dan pemusatan kehidupan yang tegas.  Sedangkan roman dikatakan sebagai menggambarkan kronik kehidupan yang lebih luas biasanya melukiskan peristiwa dari masa kanak-kanak sampai dewasa dan meninggal dunia.  Ada yang menyebutkan bahwa roman merupakan karya fiksi yang menggambarkan tokoh dan peristiwa yang hebat-hebat, mengagumkan, mengerikan, atau menyeramkan, sedangkan novel merupakan karya fiksi yang mengungkapkan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih mendalam dan disajikan lebih halus. (Semi,1993: 32).
Jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan; mengandung nilai hidup, diolah dengan teknik lisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan. Sebaliknya istilah antinovel adalah novel yang pengarangannya mengabaikan konvensi itu dan lebih menekankan introspeksi psikologi mengenai motivasi dan perasaan manusia yang sangat rumit dan beragam sehingga penceritaannya cenderung eksperimenal, misalnya alur cerita yang tidak jelas, episode yang melantur , perkembangan watak tokoh yang kurang tampak, perulangan yang banyak, dan urutan-urutan waktu yang bervariasi, seperti dalam novel Ziarah dan Kering (Iwan Simatupang).  Dalam perkembangan sastra Indonesia, istilah roman yang diambil dari sastra Belanda mulai digantikan dengan istilah novel yang lazim dalam sastra Anglo Saxon.  Sekarang kedua istilah itu tidak dibedakan.(Zaidan, 2007: 136).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
               Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek, sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan, menganalisis, dan menyajikan data.  Tujuan metode adalah efesiensi, dengan cara menyederhanakan.  Dengan memanfaatkan metode dan teori yang baru, tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.  Oleh karena itulah, pendekatan lebih dekat dengan bidang studi tertentu.(Ratna,2011: 53-54).
Pendekatan sosiologis sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra, landasanya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya.  Pandangan ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari pelbagai segi struktur sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, dan lain-lain. Dalam hal ini, tugas sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayali dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal-usulnya.  Tema dan gaya yang ada dalam karya sastra, yang bersifat pribadi itu, harus diubah menjadi hal-hal yang sosial sifatnya.(Damono,1984: 9).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis. Pendekatan sosiologis menganalisis manusia dalam masyarakat, mulai dari proses pemahaman mulai masyarakat ke individu.  Dengan menggunakan pendekatan ini peneliti mencoba untuk memaparkan unsur sosial dan budaya yang merupakan bagian dari kehidupan masyrakat yang terdapat pada cerita (Ratna, 2011: 59).
3.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis.  Metode deskriptif analitis dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian di susul dengan analisis. (Ratna, 2011: 53).  Selain itu, akan diterapkan pula metode analisis isi, yaitu berhubungan dengan isi komunikasi, baik secara verbal, dalam bentuk bahasa, maupun nonverbal, seperti arsiktektur, pakaian, alat rumah tangga, dan media elektronik.  Dalam ilmu sosial isi yang dimaksudkan berupa masalah-masalah sosial,ekonomi, dan politik.
3.3 Variabel Penelitian dan Operasionalnya
Variabel penelitian dapat diambil dari beberapa gambaran yang terjadi agar penelitian ini mudah dipahami dari sosiologis cerita dalam novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.
Hal tersebut di atas dapat diwujudkan dalam bentuk variabel, sub variabel dan indikator sebagai berikut.
Tabel Variabel Penelitian
VARIABEL
SUB VARIABEL
INDIKATOR
Kajian sosiologis
1.      Unsur Sosial




2.      Unsur Budaya
a.       norma/kaidah sosial
b.      lembaga sosial
c.       kelompok sosial
d.      lapisan sosial

a.       kepercayaan
b.      nilai
c.       norma dan sanksi
d.      simbol
e.       teknologi
f.       bahasa
g.      kesenian

3.4 Data dan Sumber Data
Sumber data penelitian ini adalah Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby.  Novel ini diterbitkan oleh Intan Cindekia Yogyakarta November Tahun 2012.
3.5 Teknik Penelitian
3.5.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi dan observasi teks.  Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan tertulis yang berkaitan langsung dengan objek penelitian dalam bentuk karya tertentu yang disebut dengan teknik dokumentasi atau studi kepustakaan.  Langkah-langkahnya adalah:
1)      Membaca penuh novel yang akan diteliti.
2)      Memilih data dan menentukan data yang sesuai dengan masalah.
3)      Mengidentifikasi aspek permasalahan yang terdapat dalam jalinan cerita.
4)      Mendeskripsikan hasil observasi sesuai data-data yang diperoleh.
3.5.2 Teknik Analisis Data
Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data.  Melihat metode yang digunakan dalam penelitian, maka teknik yang digunakan adalah teknik deskriftif interpretatif.  Analisis dilakukan setelah data terkumpul dan terjaring, kemudian penelitimenginterpretasikannya, adapun untuk mengananlisis data melalui tahapan-tahapan sebagai berikut ;
1)      Peroganisasian data, yaitu menuju pada proses pengaturan dan pemilihan data yang dilandasi dengan hubungan antara pilihan secara sosiatif.
2)      Interpretasi
Mengacu pada penelitian data, pemaknaan dengan cirri signifisi, selanjutnya dihubungkan dengan idealis menyangkut deskripsi yang dihasilkan.
3)      Evaluasi
Merefleksikan data dengan pemahaman dan pengathuan penelitian.
3.6 Instrumen Penelitian
Instrument penelitian ini yaitu peneliti melakukan kajian sosiologis terhadap novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby.  Untuk memudahkan langkah-langkah dalam menganalisis data pada penelitian ini, maka peneliti membuat sebuah instrument penelitian sederhana yang akan digunakan dalam tahap analisis data.  Berikut table instrument penelitian yang akan digunakan dalam data penelitian ini.
Tabel Instrumen Penelitian
Subvariabel
Kode
Indikator
Kode
Unsur Sosial





Unsur Budaya
US





UB
a.       norma/kaidah sosial
b.      lembaga sosial
c.       kelompok sosial
d.      lapisan sosial

a.       kepercayaan
b.      nilai
c.       norma dan sanksi
d.      simbol
e.       teknologi
f.       bahasa
g.      kesenian
nksl

lbsl
klsl
lpsl

kpcn
nl
nds
sbl
tkg
bhs
ksn

3.7 Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian dalam karya ilmiah ini dapat dijelaskan sesuai dengan dengan kegiatan yang akan dilakukan yaitu pada bulan Maret 2013 sampai Agustus 2013 kegiatan ini berlangsung selama enam bulan.  dalam hal ini ada sejumlah tahapan yang akan dilalui antara lain1) Persiapan, 2) Penyusunan Proposal 3) Seminar Proposal 4) Penyususnan Skripsi dan konsultasi 5) Ujian Skripsi dan 6) Revisi, sejumlah tahapan itu secara jelas dapat dilihat berikut.
Tabel Jadwal Penelitian
No
KEGIATAN
Bulan
Maret
2013
April
2013
Mei
2013
Juni
2013
Juli
2013
Agustus
2013
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan
























2
Penyusunan Proposal
























3
Seminar Proposal
























4
Penyusunan Skripsi & Konsultasi
























5
Ujian Skripsi
























6
Revisi

























BAB IV
DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.1 Sinopsis Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby
Novel yang berjudul Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby ini menceritakan tentang persahabatan dan cinta dari seorang kahfi. Jalinan cerita ini diceritakan di daerah Kalimantan Selatan.  Kahfi berkuliah di Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Hukum sahabatnya Indra Setyawan yang biasa dipanggil Indra, berkuliah di STKIP PGRI jurusan Sastra dan Bahasa,perkenalan pertama di Banjarmasin.  Indra adalah orang yang mengesankan perilakunya, anak yang pintar, cerdas dan solider sesama teman, selain itu Indra juga mempunyai tutur bahasa yang orisinil selalu bisa menyesuaikan diri dengan siapa ia bicara tinggal dikeluarga besar santri.  Kahfi dan Indra adalah sahabat yang sangat erat, persahabtan keduanya sangat akrab tak bisa dipisahkan begitu saja, orang tua Indra KH. Salman pengasuh Pondok pesantren di Sei Tabuk Barabai sudah dianggap seperti orang tua Kahfi sendiri.
Kahfi ngekos di jalan kembang bakung Rt.11 Rw.12 kelurahan Surgi Mufti Banjarmasin Utara, yang berdekatan dengan langgar AR-Rakhman, suasana di Surgi Mufti sedikit tenang dan ayem, cuacanya dingin sebab pohon-pohon masih tertata asri dan apik, karna surau juga tidak jauh dari rumah kostnya, setiap ada waktu lowong sebelum kekampus Kahfi sering I’tikab menentramkan diri munajat dengan Tuhan.
Dalam persahabatan keduanya ada permaslahan yang dihadapi oleh Kahfi yaitu persoalan cinta yang membuat hatinya tak karuan, tapi masalah cinta yang dihadapinya tidak diutarakanya langsung kepada Indra, sehingga membuat Indra bingung untuk memberikan solusi kepada Kahfi,  perlu pembicaraan luas dan rinci untuk membuka hati Kahfi dan membuka pembicaraan tentang persoalan cinta yang dilandanya. 
Kahfi yang kelihatan tenang sekali padahal memori menggumpal di otak, Ia berusaha menyimpan rahasia itu.  Berharap Indra tak mampu menangkap sinyal yang liar dalam kepala.  Kahfi merendam kedustaan tersembunyi dibalik hati yang galau tapi Indra dapat membaca situasi yang membelenggu hati Kahfi, sehingga akhirnya Kahfi bicara juga dan mempersilahkan Indra untuk membicarakan tentang cinta, pembicaraan yang panjang tentang cinta perlu kehati-hatian bagi Indra dan penuh perhitungan, agar Kahfi tidak terlalu merasa pertanyaan yang diutarakan Indra terlalu mengarahkan pada pribadinya, sungguh sulit mendapatkan pengakuan dari seorang Kahfi padalah Indra ingin secepatnya menyelesaikan permasalahan yang dialami Kahfi dan secepatnya menyelamatkan pikiran Kahfi yang terbelenggu dalam ketidak pastian.
Ada seorang wanita yang membuat hati Kahfi dilanda kegelisahan dalam menghadapi permasalahan cintanya, tapi Indra tidak mengetahui siapa wanita itu hanya saja julukannya Dewi si maha guru, karena begitu banyak misteri yang dialami Kahfi sehingga jalinan cinta yang dialaminya disebut percintaan tingkat Dewa-Dewi.  Kerisauan tergambar jelas diwajah Kahfi tapi Ia berusaha membangun kekuatan hati dan mulai merekahkan senyum dan meminta Indra tidak mengkhawatirkannya dan percaya masalahnya akan selesai.
Delapan tahun yang lalu Kahfi pernah tinggal di Tanjung Kabupaten Tabalong,di daerah kampung Pembataan, Jl. Ir. H.Pangeran M.Noor, Kahfi adalah orang yang sederhana, low profil, ramah serta rendah hati. Kahfi cukup dikenal dikalangan pemuda remaja masjid, alim ulama, tokoh-tokoh masyarakat, majlis ta’lim.  Kahfi tak pernah bermusuhan dengan siapapun, Ia pernah di daulat untuk membentuk group kesenian Rebana oleh tetuha masyarakat, Ia mendapat ucapan terima kasih dari Komunitas Sanggar Islami, bahkan organisasi se Kecamatan Tanjung dan desa Wayau merespon positif.
Saat berkunjung lagi ke Tanjung Kahfi mewariskan Nasidah Ria Rebana kepada teman wanitanya yang bernama lilis, sempat terjadi pemrbicangan diantara keduanya, Kahfi menanyakan kabar Maisyanti seorang guru Bahasa Arab SMAN 2 Tanjung, yang menimbulkan tanda tanya siapa itu syanti.  Kebetulan ditanjung ada acara ba syair di Aruh Sastra Kalimantan Selatan dan tanjung sebagai tuan rumah itulah kenapa Kahfi bertandang ke Tanjung. 
Pada sabtu tanggal 26 Mei 2012 Kahfi bertandang kerumah Indra Setyawan di Mabuun komplek Citra Persada Indah no. C.16 Rt.4A.  kedatangan Kahfi disambut juga oleh istrinya Indra Liani, dan kedua anaknya Evita Sharfina Setyani dan Gusti Andra Kurniawan. 
Saat pulang dari kediaman Indra, Kahfi bertemu dengan lilis perbincangan merekapun tak luput dari wanita yang bernama Dewi entah Lilis mengenal Dewi atau tidak, Ia hanya bertanya wanita itukah yang menyakiti hati Kahfi.  Siapa sebenarnya Dewi, sampai detik ini masih rahasia.  Hanya Kahfi yang tahu karena Ia yang merasakanya, dan hanya Tuhan  yang tau dari yang paling rahasia.  Kahfi pernah berkata terang-terangan dengan Dewi, bahwa Kahfi sangat menyanyangi Dewi, tapi Dewi malah menjawab silahkan saja tetapi aku tidak, amat bodoh rasanya kalau begini kata kahfi, lebih kaget lagi Dewi menjawab yang bodoh itu siapa, Dewi atau Kahfi.
Teman-teman Kahfi yang lain pun begitu penasaran siapa Dewi yang mampu berulah sehingga membuat galaunya hati Kahfi, Beram dan benya juga penasaran apa yang sedang dialami Kahfi, Beram orangnya sangat penyabar, toleran dengan sesame teman, watak yang terbuka dan selalu disiplin waktu. Beram dan benya juga termaksuk teman dekat Kahfi dan Indra.  Begitu banyak lontaran pertanyaan saat terjadi percakapan antara mereka bila sedang berkumpul bersama, tetapi begitu sulit mendapat pengakuan pasti dari Kahfi sempat terucap oleh kahfi, apakah dewi adalah rosa atau rosiana, tetapi masih saja tak ada kepastian sehingga mereka membiarkan cerita itu mengalir dengan sendirinya.
Seperti itulah perjalanan cinta Kahfi yang penuh misteri entah siapa itu Dewi, tetap menjadi misteri, tidak ada ungkapan yang pasti mengenai Dewi dari Kahfi hanya bayang-banyang dan perseteruan batin yang dialami Kahfi tentang jalinan cintanya.  Indrapun tetap menjadi sahabat yang baik yang mengerti kegelisahan Kahfi.

4.2 Kajian Sosilogis Novel Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby
4.2.1 Unsur Sosial
4.2.1.1 Norma/Kaidah Sosial
Norma/kaidah sosial adalah tingkah laku yang diterima atau diperlakukan dalam keadaan tertentu. Patokan bagaimana bertingkah laku yang menurut aturan bisa dianggap baik dan diterima masyarakat, dalam novel berjudul Kamar Itu Telah Kosong Karya Hamami Adaby ada beberapa tingkah laku yang dapat dicerminkan ditengah-tengah masyarakat yang peneliti temukan.  Hal yang berhubungan dengan norma atau tingkah laku kutipannya sebagai berikut:
Kutipan 1
“Perkenalan pertama di Banjarmasin dengan Indra Setyawan.  Kahfi kuliahnya di Universitas Lambung Mangkurat Fakultas Hukum.  Indra STKIP PGRI. Jurusan Sastra dan Bahasa.  Dia tahu benar tentang Indra, mengesankan prilakunya, supel.  Keluarga besar santri, orang tuanya pengasuh Pondok pesantren di Sei Tabuk Barabai.  Ia tergolong anak pintar, cerdas dan solider sesama teman”.(US/nksl,2012: 10)
Kutipan 2
“Jarang ada sahabat ditemui seperti Indra Setyawan.  Tutur bahasa sangat orisinil selalu bisa menyesuaikan diri dengan siapa ia bicara”.(US/nksl,2012: 10)


Kutipan 3
“Coba tanya pada mendung yang menyembunyikan rahasia ini.  Sebenarnya yang bernama beram ini orangnya sangat penyabar.  Toleran sesama teman.  Dengan siapa saja tak pernah membuat ribut, apalagi dengan Ben dan Kahfi. Kali ini nampaknya ada pergeseran sedikit.”
“Ketahuilah sejak dulu mereka selalu akur saja.  Kahfi sangat mengenali watak Beram yang terbuka dan disiplin dengan waktu. Berjanji dengannya memang kita harus hati-hati.  Setiap janji pasti dipenuhi sesuai ucapan lidah yang keluar.  Itu harga mati.”(US/nksl,2012: 72)
Dari kutipan di atas tergambar jelas perilaku Indra Setyawan yang sangat baik dan juga Beram, sangat bisa diterima di tengah-tengah masyarakat, perilaku yang dapat dicontoh agar jadi panutan yang baik.
4.2.1.2 Lembaga Sosial
Dalam kehidupan kemasyarakatan ada lembaga disekitarnya, lembaga sosial baik itu lembaga ekonomi ataupun lembaga pendidikan, seperti yang ada pada novel pun juga digambarkan adanya lembaga sosial berupa lembaga pendidikan oleh pengarang, seperti dalam kutipan di bawah ini:
Kutipan 1
“Ya, ada nama itu Fi, ia tinggal di Belimbing Raya perumahan BTN.  Yang tembus Murung Pundak.”  Ujar Lilis menjelaskannya ke Kahfi.  Bahkan menambahkan,”Syanti guru Bahasa arab SMAN 2 Tanjung,” serta merta Kahfi terdiam. Lilis menatap Kahfi.”(UB/lbsl,2012: 26)

Kutipan 2
“Sedang Kahfi dan Indra Setyawan merajut persahabatan berpuluh tahun lalu sejak di SMAN.  Mulawarman, sampai perguruan tinggi tahun 91.  Indra STKIP PGRI, Kahfi kuliah Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin.  Sampai kini ibarat buah rambutan rasa duren senang bersama duka berbagi”.(UB/lbsl,2012: 91)
Dari kutipan diatas tergambar jelas adanya lembaga pendidikan, adanya menyebutkan nama lembaga pendidikan sekolah dan  Kahfi dan Indra yang sama-sama satu sekolah dan selanjutnya juga berkuliah walau beda Fakultas.
4.2.1.3 Kelompok Sosial
Dalam lingkungan bermasyarakat juga ada yang namanya kelompok sosial yaitu himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama oleh adanya hubungan diantara mereka.  Hubungan itu menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran saling menolong, hal yang berkaitan dengan kelompok sosial kutipannya sebagai berikut;
Kutipan 1
“KAHFI pernah tinggal di Tanjung Kabupaten Tabalong, 8 tahun yang lalu di derah kampung pembataan, jalan IR. H. Pangeran M.Noor.  orangnya sederhana sekali, low profil ramah serta rendah hati.  Ia cukup dikenal dkalangan pemuda remaja mesjid, alim ulama, tokoh-tokoh masyarakat, majlis ta’lim, bahkan pemuda-pemuda bertubuh kekar siap mengamankanpribadi kahfi.  Luar biasa solidaritas itu! Tanpa dikawal pun musuh tak pernah datang.”(US/klsl,2012: 24)
Kutipan 2
“Bukan saja ucapan terima kasih yang datang dari  Komunitas Sanggar Islam, tapi hampir semua organisasi se Kecamatan Tanjung termasuk desa Wayau merespon positif.  Berita ini telah tercium oleh Bupati Tabalong Rakhman Ramsyi, serta istri beliau Sumiati.(US/klsl,2012: 24)
Kutipan diatas menceritakan adanya kelompok sosial berdasarkan realita keagamaan karena disebutkan adanya perkumpulan remaja mesjid, majelis ta’lim dan komunitas sanggar islam organisasi se Kecamatan serta yang lainnya.  Ada juga kelompok sosial yang berhubungan dengan kelompok pertemanan, kutipan yang peneliti temukan yaitu:
“Sore tak ada pertemuan, Indra menemani rombongan mengajak makan sore di rumah makan”BUNDA”Simpang Empat Mabuun.  Pemandangan sore senja itu amat romantis sekali.  Mendung tapi cerah, seperti gadis bertapih sedada tersenyum agak malu-malu.
“In, sayang lilis gak nemanin kita,”ceplos longgar Kahfi.
“Hemm, masih seperti dulu aja nich,” Indra tersenyum.
“Teman yang lain ketempat keluarga dan rekan-rekan,” ucap Benya.
“Ya, lain kali ada waktu kita ajak juga.  Kita berlima” ujar Indra.
“Iya, Kahfi, Ben, Rajul, Indra dan saya, Beram” katanya.
“Minumnya?”
“The panas 2, es teh 2 dan Indra?
“He, teh jugalah!”
“Kita makan apa? Ada ayam, kambing, papuyu dan masakan Paliat,”
“Coba Paliat, bagaimana rasanya,” ujar Beram.
‘’Ya, Paliat ajalah,” ujar Ben ikutan.rajul ujar Kahfi membonceng.
“Paliat jugalah,” ujar Rajul sambil tertawa lebar.”Kahfi?” balasnya.”Paliat ajalah,” Rajul gak sempat nanya. Saya? Ujar Indra, “Samma!”
“Semua Paliat, pecah tawa kami berlima.  Pelayan rumah makan “BUNDA” terperangah mendengar pungutan suara, 100 persen partai independent “PALIAT”.  Hidup kuliner Paliat Kelua Tanjung.  Rasakan nikmatnya masakan ini.  Sekali mencoba tetap menikmatinya, subhanallah.(US/klsl,2012: 91-93)
 Dari kutipan tersebut jelas tergambar adanya perkumpulan pertemanan yang terjadi di rumah makan, sehingga peneliti menggambarkan itu sebagai kelompok sosial.
4.2.1.4 Lapisan Sosial
Lapisan sosial berhubungan dengan adanya penggambaran dalam tiap kelompok terdapat perbedaan kedudukan seseorang dari yang berkedudukan tinggi sampai berkedudukan rendah, kutipan yang ditemukan peneliti sebagai berikut:
“Roker juga manusia, maling, koruptor, begal, novelis ya manuisa.  Rasanya selalu saja kita dibelit perasaan, dibelit ketidaknyamanan situasi dan kondisi.  Suasana melambungnya harga bahan pokok, kurs rupiah yang anjlok, pengangguran makin bertambah”.(US/lpsl,2012: 7-8)
Dari kutipan di atas disebutkankan, maling, koruptor, novelis dan pengangguran, menurut peneliti hal tersebut berhubungan dengan lapisan sosial.
            TABEL DATA HASIL ANALISIS UNSUR SOSIAL NOVEL
KAMAR ITU TELAH KOSONG KARYA HAMAMI ADABY
No.
Unsur Sosial
1.
Norma/Kaidah Sosial
ditemukan 3 pembahasan
2.
Lembaga Sosial
ditemukan 2 pembahasan
3.
Kelompok Sosial
ditemukan 3 pembahasan
4.
Lapisan Sosial
ditemukan 1 pembahasan

4.2.2 Unsur Budaya
4.2.2.1 Kepercayaan
Kepercayaan berkaitan dengan pandangan bagaimana dunia beroperasi.  Setiap orang pasti memiliki kepercayaannya masing-masing baik kepada maha pencipta, agama dan hal sebagainya, dalam jalinan cerita yang dikemukakan pengarang menggambarkan kehidupan yang berpegang teguh kepada kepercayaan terhadap agamanya, hal yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap agama sebagai berikut:
Kutipan 1
“Di pemukiman baru ini, Surgi Mukti agaknya sedikit tenang dan ayem, dingin cuaca sebab pohon-pohon masih tertata apik.  Surau juga tidak jauh dari rumah kostnya.  Kahfi ada waktu lowong sebelum kekampus sering I’tikab menentramkan diri munajat dengan Tuhan.  Komunikasi langsung, sebab Tuhan mendengar dan mengetahui isi hati kita”.(UB/kpcn,2012: 7)
Kutipan 2
“Ia sangat peduli, tidak masa bodoh selalu belas kasihan rakhman rakhiemnya seisi dunia.  Maka cintailah sesama ummat, dia pemberi kasih sayang dari segala cinta.  Berdoa, istigfar dengan rasa tak pernah surut dan lelah.  Doa kita diperkenankan nantinya”.(UB/kpcn,2012: 7)
Kutipan 3
“Tuhan ada dimana-mana yang selalu kita bawa.  Tuhan selalu dalam diri kita.  Segala pinta dan cengkerama.  Doa penuh hidmat dalam denyut nadimu.  Amanah hidup tak ternilai.  Hidayahnya yang kita harus temukan dalam kehidupan.  Apakah ini tak terpikirkan olehmu?”.(UB/kpcn,2012: 8-9)

Kutipan 4
“Ucapan Indra Setyawan sangat menenangkan fikiran Kahfi.  Betapa tidak, coba kita bayangkan sejenak sambil menarik hu Allah.  Hembus perlahan sambil menatap alam ciptanya.  Allah maha suci telah melengkapkan segala keperluan hajat hidup mahkluk dibuminya.  Begitu agung dan kasih sayangnya. Begitu indah dan sepantasnya kalian bersujud dihamparan tanah ini”.(UB/kpcn,2012: 10)
Kutipan 5
“Cakap dan kelakar sore senja itu di siring kali Martapura depan mesjid Sabilal Mukhtadin menjadi saksi kenangan.  Segera keduanya menuju mesjid ikut berjamaah sembahyang magrib di imami Mualim KH.Tarmizi Abbas.  Selesai menunaikan tugas bagi seorang muslim, kami masing-masing berdoa dengan bahasa sendiri.  Sebab tuhan maha mengerti segala ucapan.  Setelah itu kami berangkulan dan berpisah.  Sangat sarat muatan percakapan itu”.(UB/kpcn,2012: 14)
            Kutipan 6
            “Bagi kahfi tentu lain lagi masalahnya.  Ketenangan termaksud dalam salah satu fondasi sakral seharusnya berpegang pada tali Allah.  Tak ada pilihan lain yang bisa menolong, selain sang penguasa.  Kita pinta dalam sebuah doa dengan hidmad dan ikhlas, sesungguhnya Dia akan mengabulkan segala pinta hambanya.  Kenapa ini tidak dilakukan? Kami serahkan pada kalian, maunya apa dan bagaimana.”(UB/kpcn,2012: 62)
Dari kutipan di atas digambarkan pengarang bahwa kehidupan yang dijalani tak luput dari keimanannya kepada Allah Swt, dimana tokoh yang bernama Kahfi memilih tempat tinggal yang dekat dengan langgar, sehingga bila ada waktu lowong Kahfi sering pergi I’tikab sebelum ke kampus sekedar bermunajat diri, berdoa dan beristigfar.

4.2.2.2 Nilai
Nilai adalah kosepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk, nilai  juga bisa mengenai hakikat hidup manusia, bisa juga mengenai hakikat hubungan manusia dengan alam, dalam novel Kamar Itu Telah Kosong ada hal yang berhubungan dengan hakikat hidup manusia dan hakikat manusia dengan alam, kutipan yang berhubungan dengan nilai sebagai berikut:
Kutipan 1
“Terserah saja, itu bukan urusan Maha Guru,”Katanya.
“Kalau begitu bubaran saja, itu lebih baik,”
“Dewi tak ngurusi Kahfi, serah saja mau apa.
Masih ada yang lebih penting,” kata Maha guru.
“Memang amat ruwet sekali.  Indra masih tertegun mendengar cerita Kahfi.  Hanya orang-orang yang menolak keindahan cinta yang tak beriman.  Tak percaya cinta milik Tuhan dititip anugerahkannya pada manusia”.(UB/nl,2012: 18)
Kutipan 2
“Indra Setyawan berdiri di atas gundukan tanah bebukitan.  Dibawah sebatang rimbun kesturi.  Sambil menikmati kibasan angin manja bilangan kampung Wayau Kecamatan Tanjung.  Bunga hatinya berpendar-pendar.  Ada semacam keindahan melihat keasrian hutan diperkampungan”.(UB/nl,2012: 21)

Kutipan 3
“Berbalik-balik tak menentu gerak dinamisnya, melambung tinggi, menurun drastis jadi kejam dan bengisnya.  Begitu lembutnya kalau sudah cinta merasuk dalam sanubari kita.  Kalbu yang bersembunyi, betapa sulit ukur kedalaman indah pancaran senyum yang manis.  Sebaliknya apa mampukah kita baca warna hati manusia.  Hati itu seperti apa. Apa merah, ungu, hitam atau putih? Kamu yang lebih tau”.(UB/nl,2012: 42)
Dari kutipan diatas digambarkan pengarang tentang nilai dari hakikat manusia berupa penilaian terhadap indahnya cinta, dan juga tentang hakikat manusia dengan alama yaitu Indra yang menikmati indahnya panorama alam di daerah Wayau Kecamatan Tanjung yang asri Suasana perkampungannya.
4.2.2.3 Norma dan Sanksi
Dalam norma ada tingkah laku yang baik dan ada juga tingkah laku yang melanggar pola tingkah laku yang sebenarya. Norma adalah suatu aturan khusus, atau aturan seperangkat peraturan tentang apa yang harus dan apa yang tidak harus dilakukan dan sanksi adalah hukuman yang patut diberikan bagi pelanggar norma itu.  Dalam jalinan cerita pada novel karya Hamami Adaby ini ada beberapa pelanggaran norma, hal yang berhubungan dengan pelanggaran norma dan sanksi kutipannya sebagai berikut:
Kutipan 1
“Pohon-pohon besar sepemeluk, kayu-kayu gelondongan yang disinsaw, ditebang penguasa hutan orang-orang berduit.  Berapa milyard kubik kayu-kayu kita dibawa keluar negeri.  Bahkan ada yang dicuri orang-orang berdasi.  Dibabat habis digergaji.  Robohlah sudah, rusak anak-anakan sekitar.  Margasatwa menangis kehilangan tempat berteduh.  Seperti rumah-rumah kumuh tak berizin di tepian sungai pinggiran kota”.(UB/nds,2012: 20)
“Tebang pilih sudah tak berlaku lagi.  Apalagi tebang tanam. Lokasi itu ditinggal begitu saja.  Dibiarkan jadi merangas, setelah disikat habis.  Tak lagi memperdulikan lingkungan, bahwa hutan merupakan paru-paru alam yang harus dilestari kembali setelah ditebang. Hutan telah jadi gundul seperti kepala longgor”.(UB/nds,2012: 20)
Kutipan 2
“Di bawah lapisan-lapisanya yakin ada pengikut setia berjamaah.  Dia adalah tikus-tikus yang me mark’up uang Negara, uang rakyat.  Mereka-mereka telah jadi bunglon menyamar menjadi pembela kebenaran akan kemakmuran.  Gila betul siluman-siluman kaya gitu! Pantasnya dihukum pancung saja”.(UB/nds,2012: 22)
Tergambar jelas dari pembahasan diatas adanya pelanggaran norma tentang tingkah laku para orang berduit yang berkuasa dan tidak memperdulikan alam lingkungan sekitar yang hanya memikirkan untuk me mark up uang negara, orang berdasi pun juga ikut ambil alih, seharusnya ada ganjaran setimpal yang mereka terima.
4.2.2.4 Simbol
Simbol adalah sesuatu yang dapat mengekspresikan atau memberikan makna, dalam novel Kamar Itu Telah Kosong peneliti menemukan beberapa kalimat yang berhubungan dengan simbol tentang para Koruptor yang selalu menyengsarakan masyarakat, kutipan yang berhubungan sebagai berikut:
Kutipan 1
“Perih juga hati kita merasakan hal ini.  Perih bertambah luka kita menyaksikan kehidupan masyarakat pinggiran kota, makan tanpa lauk, hanya garam peluncur rasa ke dalam perut.  Sungguh aneh di negeri yang subur ini hanya tikus-tikus yang kenyang dan gendut.  Persetan!”(UB/sbl,2012: 8)
Kutipan 2
“Pohon-pohon besar sepemeluk, kayu-kayu gelondongan yang disinsaw, ditebang penguasa hutan orang-orang berduit.  Berapa milyard kubik kayu-kayu kita dibawa ke luar negeri.  Bahkan ada yang dicuri orang-orang berdasi.  Dibabat habis digergaji.  Robohlah sudah, rusak anak-anakan kayu sekitar.  Margasatwa menangis kehilangan berteduh.  Seperti rumah-rumah kumuh tak berizin di tepian sungai pinggiran kota.”
“Tebang pilih sudah tak berlaku lagi.  Apalagi tebang tanam.  Lokasi itu ditinggal begitu saja.  Dibiarkan jadi merangas, setelah disikat habis.  Tak lagi memperdulikan lingkungan, bahwa hutan merupakan paru-paru alam yang harus dilestari kembali setelah ditebang.  Hutan telah jadi gundul seperti kepala longgor.”(UB/sbl,2012: 20)
Kutipan 3
“Di bawah lapisan-lapisannya yakin ada pengikut setia berjamaah.  Dia adalah tikus-tikus yang me mark’up uang Negara, uang rakyat.  Mereka-mereka telah jadi bunglon menyamar menjadi pembela kebenaran akan kemakmuran.  Gila betul siluman-siluman kayak gitu! Pantasnya dihukum pancung saja.”(UB/sbl,2012: 22)
        Dari kutipan tersebut tergambar jelas bahwa pengarang menggambarkan tikus-tikus sebagai simbol para koruptor yang kejam kepada masyarakat, tidak memperdulikan lingkungan hanya mencari materi untuk kepuasan hidupnya.
4.2.2.5 Teknologi
Penggunaan teknologi yang ditemukan peneliti dalam novel Kamar Itu Telah Kosong ini beberapa keadaan yang disebutkan berhubungan dengan teknologi, yang peneliti temukan dalam kutipan di bawah ini:
“Ini hanya sebuah lamunan yang tak berujung pangkal ketika melintasi jalan tambak anyar kabupaten Banjar sampai binuang Kabupaten Tapin, truk-truk gila itu jadi raja singa berjejer barisan seperti parade kekuatan kemegahan, kesombongan keserakahan tak terperi. Mengaum-ngaum.”
“Truk-truk itu melintasi aspal Negara satu-satunya jalan transportasi darat dari Kabupaten ke Propinsi Kalimantan Selatan.  Perjalanan ini ditempuh kurang lebih 5 jam menuju ma Tanjung.  Bak belakang yang ditutup terpal, batu-batu bara yang di stock file di pelabuhan. Tongkang-tongkang gandengan siap mengantarkannya ke luar pulau Kalimantan.”
“Payah juga menuju Kabupaten Minyak Tanjung.  Sebenarnya tubuh Kahfi remuk juga dalam mobil taxi itu.  Macet dalam perjalanan seperti melewat jalan setan di Jakarta saja.  Truk-truk batu bara seenaknya saja ngeluyur bolak balik. Ini satu-satunya jalan lho. Mobil-mobil jenis ringan, avanza, pather, pick-up dan sejenisnya ngeri juga berpapas dengan truck-truck gajah hutan.”(UB/tkg,2012: 112-113)
Dari kutipan di atas teknologi yang digunakan dalam jalinan cerita Kamar Itu Telah Kosong pengarang menyebutkan adanya truk-truk besar, kapal tongkang gandengan, mobil avanza, pick-up, panther dan mobil taxi, yang menurut peneliti itu merupakan canggihnya teknologi masa kini.
4.2.2.6  Bahasa
Setiap manusia membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi, baik itu bahasa lisan, bahasa tulis, dan bahasa isyarat. Bahasa adalah unsur budaya yang penting yang dapat menunjukan suatu masyarakat berasal dari kebudayaan yang sama atau tidak. Dalam novel karya Hamami Adaby ada beberapa penggunaan bahasa antara lain adanya bahasa Banjar dan juga bahasa Inggris yang ditemukan peneliti, bahasa banjar yaitu sebagai berikut:
1)      Ujar (UB/bhs,2012:9): kata
2)      Pagutan (UB/bhs,2012:19): berpelukan
3)      Di wadah (UB/bhs,2012:23): di tempat
4)      Limbung (UB/bhs,2012:25): arah
5)      Pun (UB/bhs,2012:33): jawaban untuk panggilan dari orang yang lebih tua
6)      Banyu putih (UB/bhs,2012:36): air putih
7)      Memusut-musut (UB/bhs,2012:36): mengelus-elus
8)      Itik masak habang (UB/bhs,2012:53): bebek masak sambal merah
9)      Papuyu baumbar (UB/bhs,2012:53): papuyu penamaan oleh orang Banjar untuk Ikan betook. Baumbar/ bakar.
10)  Kedahi (UB/bhs,2012:57): kejidad
11)  Sangkal (UB/bhs,2012: jengkel
Bahasa inggris yang ditemukan yaitu sebagai berikut:
1)      Standart (UB/bhs,2012:9):
2)      Problema no (UB/bhs,2012:19):
3)      Yes (UB/bhs,2012:19):
4)      Low profil (UB/bhs,2012:24):
5)      Knock out (UB/bhs,2012:65):
Gambaran kutipan di atas adalah sebagai unsur budaya yang menyangkut bahasa.
4.2.2.7 Kesenian
Kesenian yang terkandung dalam jalinan cerita oleh pengarang Hamami Adaby, menurut peneliti adalah dengan menyebutkan adanya ranggam acara pergelaran kesenian dan sanggar kesenian, kutipan yang berhubungan sebagai berikut:
Kutipan 1
“Malam itu ada acara ba syair di Aruh Sastra Kalimantan Selatan tuan rumah Tanjung.  Padalah rencana esok Sabtu Kahfi jam 2.00 akan kerumah Indra di Mabuun.  Malamnya ketemu di taman tidak jauh dari acara tersebut.”(UB/ksn,2012: 29)
Kutipan 2
“Dua hati satu jiwa merupakan motto yang absolute.  Tak berhak siapapun menggugat. Label ini sudah dipatenkan di Aruh Sastra 2006 Kotabaru di siring beton patai bamega. Disaksikan kelap-kelip lampu kapal dengan santunnya ombak disela karang.”
… …
“Dua tahun lalu Kahfi diundang panitia Aruh Sastra Tanjung.  Indra Setyawan, Lilis MS, serta bambang rukmana menyambut kedatangan kami di Kesekreatan.  Setelah beberapa istirahat rombongan diinapkan  di rumah penduduk tepian dekat jembatan tidak jauh dari  gedung SARABAKAWA.”(UB/ksn,2012: 91)
Itulah gambaran kesenian menurut peneliti yang digambarkan oleh pengarang dalam novel Kamar Itu Telah Kosong.

            TABEL DATA HASIL ANALISIS UNSUR BUDAYA NOVEL
KAMAR ITU TELAH KOSONG KARYA HAMAMI ADABY
No.
Unsur Budaya
1.       
Kepercayaan
ditemukan 6 pembahasan
2.       
Nilai
ditemukan 3 pembahasan
3.       
Norman dan Sanksi
ditemukan 2 pembahasan
4.       
Simbol
ditemukan 3 pembahasan
5.       
Teknologi
ditemukan 1 pembahasan
6.       
Bahasa
ditemukan  pembahasan
7.       
Kesenian
ditemukan 2 pembahasan


BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan analisis mengenai Kajian Sosiologis terhadap Novel Kamar Itu Telah Kosong karya Hamami Adaby didapatkan hasil sebagai berikut:
1)      Dilihat dari bentuk unsur-unsur sosial meliputi:
a.       Norma/Kaidah Sosial ada 3 pembahasan
b.      Lembaga Sosial ada 2 pembahasan
c.       Kelompok Sosial ada 3 pembahasan
d.      Lapisan Sosial ada 1 pembahasan
2)      Dilihat dari bentuk unsur-unsur budaya meliputi:
a.       Kepercayaan ada 6 pembahasan
b.      Nilai ada 3 pembahasan
c.       Norma dan Sanksi ada 2 pembahasan
d.      Simbol ada 3 pembahasan
e.       Teknologi ada 1 pembahasan
f.       Bahasa ada 19 pembahasan
g.      Kesenian ada 2 pembahasan

45
 

5.2 Saran-saran
Berdasarkan simpulan diatas, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:
1)      Dengan melaksanakan kajian terhadap novel, kita akan mengarah pola pikir yang lebih kritis, kreatif serta mengasah pemahaman membaca lebih dalam.
2)      Penelitian mengenai kajian sosiologis dalam sastra dapat ditingkatkan lagi. Banyak hal-hal yang menarik untuk diteliti, karena di dalam karya sastra terdapat nilai-nilai dalam berbagai aspek.


DAFTAR RUJUKAN

Abdulkadir, Muhammad.2011. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Bandung: PT Citra Aditya 
Bakti.

Adaby, Hamami. 2012. Kamar Itu Telah Kosong. Yogyakarta: Intan Cindekia.
Aminuddin. 2011. Pengantar Apersiasi Karya Sastra. Malang: Sinar Baru Algensindo.

Bakir, R. Suyoto dan Sigit Suryanto. 2006. Edisi Baru Kamus Lengkap   Bahasa Indonesia. Batam Centre: karisma Publishing Group.

Damono, Sapardi Djoko.1984.Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas.Jakarta: Tut Wuri Handayani.

Endraswara, Suwardi. 2008. Metodologi Penelitian sastra. Yogyakarta: Media Pressindo.

Gunawan, Ary H.2010.Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Hartomo, dan Arnicun Aziz.1999.Ilmu Sosial Dasar.Jakarta: Bumi Pusaka.
Maran, Rafael Raga.2000. Manusia & Kebudayaan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.

Nurgiyantoro, Burhan. 2010. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah   Mada.
Ratna, Nyoman Kutha. 2011. Teori, Metode, dan teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto, Soerjono.2009.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: Rajawali Pers.
Tim Penyusun. 2011. Pedoman Penulisan Skripsi. Banjarmasin: STKIP PGRI Banjarmasin.

Waridah, Ernawati. 2008. EYD & Seputar Kebahasaan-Indonesiaan. Jakarta: Kawan Pustaka.

47
Zaidan, Abdul Rozak,dkk. 2007.Kamus Istilah Sastra. Jakarta: Balai Pustaka.


«
Next

Posting Lebih Baru

»
Previous

Posting Lama

About Johan Martha

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

Tidak ada komentar :

Leave a Reply

galery